Jambur Karo, Dari Adat Hingga Kemanusiaan
- 07 Sep 2025 16:01 WIB
- Medan
KBRN, Medan: Bagi masyarakat Karo, jambur bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang kebersamaan, tempat di mana suka dan duka dibagi bersama. Sejak lama, jambur menjadi pusat kegiatan adat, mulai dari pesta pernikahan hingga upacara kematian. Dengan bangunan yang luas, tanpa dinding, dan biasanya berpanggung, jambur selalu terbuka untuk siapa saja yang datang.
Menariknya, istilah jambur kini tidak hanya milik masyarakat Karo. Seiring waktu, kata ini merambah ke ranah nasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan istilah jambur untuk menyebut ruang serbaguna yang difungsikan sebagai tempat penampungan pengungsi, terutama saat bencana alam terjadi.
Salah satu contohnya terlihat jelas pada saat erupsi Gunung Sinabung beberapa tahun lalu. Ribuan warga yang terdampak bencana ditampung di jambur. Bangunan tradisional yang lahir dari budaya Karo ini pun berubah fungsi menjadi simbol solidaritas dan kemanusiaan.
Keberadaan jambur menunjukkan bagaimana kearifan lokal bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Dari ruang adat yang hangat hingga ruang kemanusiaan yang menolong banyak orang, jambur tetap menjadi tempat di mana kebersamaan, gotong royong, dan rasa saling peduli hidup dan berkembang.
Mungkin sederhana, tapi justru dari kesederhanaannya, jambur mengajarkan kita makna besar bahwa dalam suka maupun duka, manusia selalu butuh ruang untuk berkumpul, berbagi, dan saling menguatkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....