Program MBG Mendorong Kenaikan Harga Ayam Potong

  • 08 Sep 2026 14:21 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Selasa ( 1/8/2026 ) pagi, membahas isu kenaikan harga ayam potong yang dikaitkan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara, dengan menghadirkan narasumber M. Ardian, B.Soc. (Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas Kota Binjai) dan Dr. Minda M Sebayang, M.Si.,Ak. (Akademisi Universitas Medan Area). Program MBG yang menargetkan pemenuhan gizi anak sekolah dan kelompok rentan disebut membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar, termasuk daging ayam. Hal ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat apakah tingginya permintaan tersebut menjadi salah satu pemicu naiknya harga ayam di pasar.

“ Program MBG memang menyerap ayam potong dalam jumlah signifikan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan protein anak. Namun ia menegaskan bahwa kenaikan harga tidak bisa langsung disalahkan pada MBG saja. Faktor lain seperti harga pakan, cuaca, biaya distribusi, dan rantai pasok dari peternak ke pasar juga sangat memengaruhi. Ia berharap pemerintah dapat menjamin stabilitas harga bahan baku agar dapur MBG tetap berjalan dan tidak membebani anggaran, “ ujar M. Ardian.

Sedangkan Minda M. Sebayang mengatakan bahwa persoalan ini kalau ditinjau dari sisi ekonomi dan kebijakan pangan. Ia menjelaskan bahwa hukum permintaan dan penawaran berlaku ketika ada lonjakan kebutuhan secara mendadak. Jika pasokan ayam tidak diimbangi, maka harga akan naik. Dr. Minda menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan kebutuhan dan koordinasi dengan peternak lokal jauh-jauh hari sebelum MBG berjalan masif. Selain itu, penguatan ketahanan pangan daerah, subsidi pakan, dan pengawasan rantai distribusi menjadi penting agar tidak terjadi gejolak harga yang merugikan konsumen.

Kedua narasumber sepakat bahwa MBG adalah program baik untuk meningkatkan gizi masyarakat, tetapi implementasinya harus diiringi dengan kebijakan pendukung di sektor pertanian dan peternakan. Pemerintah daerah dan pusat perlu duduk bersama dengan asosiasi peternak, distributor, dan pengelola dapur MBG untuk memastikan ketersediaan stok aman. Tanpa itu, dikhawatirkan program MBG justru menimbulkan dampak lanjutan berupa inflasi bahan pokok.

“ Aspek perlindungan konsumen juga menjadi sorotan. Masyarakat, terutama ibu rumah tangga, merasakan langsung dampak kenaikan harga ayam di pasar tradisional. Oleh karena itu diperlukan transparansi data harga dan operasi pasar ketika terjadi lonjakan. Edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan panic buying juga penting agar harga tidak semakin terdongkrak, “ ungkap Minda M. Sebayang.

Diakhir dialog narasumber memberikan kesimpulan bahwa kenaikan harga ayam potong tidak bisa disederhanakan hanya karena MBG. Dibutuhkan data, koordinasi, dan kebijakan terpadu agar program MBG berjalan lancar tanpa mengorbankan daya beli masyarakat. Dialog ini mengingatkan bahwa setiap kebijakan besar harus dihitung dampaknya secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir, demi kesejahteraan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....