CKG, Jembatan Nafas Ekonomi dan Kesehatan Warga Kampung Nelayan Seberang

  • 27 Agt 2026 16:34 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pagi itu, Kamis, 18 Juni 2026, udara masih terasa dingin meski matahari mulai menyengat saat kami menyambangi wilayah kampung Nelayan Seberang, di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Belawan kota Medan. Di saat bersamaan, para petugas UPT Puskesmas Medan Belawan serta petugas Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) USU juga bergegas menuju Kampung Nelayan Seberang, guna menjalankan tugas Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Melalui Dermaga Pelabuhan Belawan, kami menuju perkampungan Nelayan Seberang dengan menumpangi perahu tongkang yang dinahkodai pak Burhan. Kebisingan suara mesin perahu, deburan ombak dan semilir angin mengiringi perjalanan kami menuju Dermaga Pak Ogah yang berada ditengah-tengah perairan Laut Belawan.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit, deretan rumah terapung yang berdiri diantara tiang pancang beton dan kayu menyapa kedatangan kami. Deretan ribuan kayu papan usang turut menuntun langkah kami menuju Posyandu Terintegrasi Kampung Nelayan, yang menjadi satu dari sekian wilayah tugas dari program CKG.

Puluhan wanita lansia dan anak kecil yang masih terlihat menyusui erat di gendongan ibunya menyapa kami dengan hangat sambil menjulurkan tangan mereka. Satu persatu petugas Puskesmas dan mahasiswa P3D USU mulai menata peralatan kesehatan, sesekali petugas puskesmas turu mendata data antrian.

Lokasi Posyandu Terintegrasi seakan menjadi rumah singgah bagi para warga kampung nelayan seberang saat pejuang Tenaga Kesehatan (Nakes) tiba setiap pertengahan bulan. Meski bangunan teruntai dari papan dan triplek, disanalah para lansia dan anak-anak menerima program CKG, mulai dari pemeriksaan fisik hingga imunisasi bagi balita.

Tak lama berselang, kami menemui ibu Hamidah, janda dua anak yang kini tinggal seorang diri. Wanita berusia 53 tahun ini, merupakan satu dari ratusan warga yang menerima manfaat program CKG. Bagi wanita yang setiap hari mengumpulkan barang bekas untuk dijual ke Bank Sampah ini mengaku, keberadaan CKG bukan sekadar meringankan beban ekonominya. Uang transport perahu tongkang menuju lokasi Puskesmas, bisa dialihkan untuk membayar tagihan listrik dan air bersih.

“Karena kan enggak bayar (cek kesehatan). Kalau nyebrang ke Puskesmas kan harus bayar Rp10 ribu untuk pulang dan pergi. Belum lagi ongkos naik becak pulang pergi Rp20 ribu, sehingga totalnya Rp30 ribu. Jadi, ongkos yang biasa kita keluarkan untuk biaya nyeberang, bisa kita alihkan beli cabai, bawang, minyak,” kata Hamidah.

Hamidah bercerita, jauh sebelum menerima program CKG “Jemput Bola”, ia minimal harus merogoh uang berobat hingga 150 ribu per bulan. Padahal, penghasilan dari memulung tidak menentu. Terkadang, ia harus berhutang kepada tetangga, maupun dermawan.

“Ya kadang misalnya nih Ibu punya asam lambung, saat misalnya undangan nih, makan tauco, udah kumat asam lambung Ibu pasti. Kumat, berobat itu bisa sampai ngeluarin Rp75.000. Sekarang, dengan adanya CKG, lambung ibu lebih terkontrol dan cukup rutin tiap bulan jalani CKG jadi gak pernah kumat berat dan gak harus ngeluarin uang berobat lagi,” ujarnya.

NAFAS EKONOMI WARGA NELAYAN

Selain Buk Hamidah, kami menyambangi Pak Jumari, Lelaki berusia 68 tahun yang didiagnosa mengalami Pembengkakan jantung Lelaki berusia 68 tahun itu, juga merasakan manfaatkan besar program CKG. Selain memastikan kondisi kesehatannya, setelah tak lagi melaut akibat kondisi tubuh yang terus melemah, ayah dengan 5 anak ini, kini hanya menggantungkan penghasilan dari sewa perahu penyeberangan.

“Bawa sewa ini kadang ada, kadang tidak.Ya, sama juga macam kita supir, naik becak, ojek, itulah. Kadang sampai Rp80.000, kadang gak sampai. Ini belum potong minyak, potong apa lagi. Bersih. Rp50.000, Rp70.000, hah gitulah dapat seharian.Ya bantu kali lah, Pak. Nah, ini terbantu kali, Pak. Kalau kita harus ke Puskesmas untuk progam CKG. berapa uang darimana kita cari uangnya untuk ongkos becak,” katanya.

Manfaat lain juga dirasakan Hermansyah, lelaki yang memiliki 3 anak itu. Lelaki berusia 40 tahun itu mengaku sebelum adanya CKG jemput bola, ia harus merogoh uang hingga Rp 50 ribu untuk pergi ke Puskesmas. Dengan adanya program jemput bola, ia bisa menyisihkan untuk biaya kedua anaknya Zaqwan Sareza yang duduk di sekolah SMP serta Asqia Az Zahra yang masih duduk di bangku SD, serta asupan susu bagi putri bungsunya Ataya Izati yang masih balita.

“Jadi kalau masalah biaya karena kita pendapatan kita kan hari-hari standar Rp50.000 satu hari. Hadirnya CKG jemput bola ini, kita fokus pada anak kita untuk bersekolah. Ah, jadi biaya-biayanya itu untuk sekolah anak lah, seperti jajan mereka, transport mereka kan. Kita kan butuh transport untuk mereka sekolah,”

“Jadi seperti-seperti itulah, SPP mereka. Jadi lebih memikirkan uangnya untuk anak sekolah. Iya. Di situlah kita alhamdulillah-nya. Jadi tidak terbebani dengan biaya ini kan. Hadirnya pemerintah tadi, jadi dari kesehatan kita sudah enggak mikir nih. Ah, yuk kita pikirkan untuk jenjang anak sekolah aja gitu,” katanya.

Ungkapan hati dari seorang Jumari yang berjuang di tengah penyakit kronis, Hamidah yang hidup seorang diri, menjadi saksi bahwa, program CKG tidak hanya membuka kemudahan akses kesehatan bagi warga pesisir. CKG juga meringankan beban ekonomi mereka, sekaligus menjadi Denyut Nadi bagi kurang lebih ratusan warga ‘Kampung Nelayan Seberang yang merasakan kehadiran negara kepada masyarakat pesisir.

CKG TEMBUS BATAS PESISIR

Sambil duduk bersila, kami menyambangi kepala UPT Puskesmas Belawan, drg. Tina Arriani, M.Kes., Ph.D., CPPS., CHMC, mengatakan sulitnya akses tranportasi menuju ke wilayah pesisir Kampung Nelayan Seberang menjadi tantangan bagi para petugas dan Nakes.

“Tantangan lainnya memang untuk di Nelayan Seberang ini tempat kegiatan CKG di Posyandu memang kurang memadai ditempat tersebut. Kemudian juga kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan memang butuh dukungan, salah satunya ya seperti program jemput bola ini,” kata drg. Tina Arriani.

Kondisi lingkungan yang kumuh dan banyaknya sampah yang terapung bebas di tiap sudut pemukiman mereka, menyebabkan potensi sumber penyakit banyak dialami masyarakat pesisir. Sejak mengalami screening, penyakit yang banyak dialami masyarakat Kampung Nelayan Seberang mulai dari hypertensi, diabetes mellitus, rhematoid, common cold (demam), hingga gatal – gatal.

“Kami juga lakukan pendampingan pasien stroke dilakukan dengan pemeriksaan kondisi fisik, pemantauan perkembangan, serta pemberian edukasi kepada keluarga. Proses pemulihan membutuhkan perhatian, dukungan, dan perawatan yang berkelanjutan. Termasuk menjangkau hingga Kampung Nelayan, menghadirkan pelayanan kesehatan yang dekat, peduli, dan untuk semua,” ujarnya.

Namun, setelah program CKG berjalan rutin tiap bulan, dampaknya luar biasa. Mulai dari perubahan kesadaran masyarakat akan pengecekan kesehatan rutin hingga masyarakat lebih paham tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih.

“Setelah mendapat program CKG ini, banyak masyarakat yang lebih peduli dan perhatian terhadap kesehatan diri. Mereka mulai memahami pentingnya kesehatan dan rutin cek memeriksakan kesehatan pada posyandu dan juga datang ke Puskesmas jika memang penyakit yang dialami butuh penanganan lebih lanjut,” ujarnya.

CAKUPAN 40 PERSEN

Program CKG sendiri dikatakan drg. Tina Arriani menyasar berbagai pemeriksaan fisik, mulai dari tinggi badan, berat badan, Tensi darah, dan Respiratory Rate. Kemudian kadar Gula darah pada semua usia.

“Untuk penderita diabetes mellitus dan hipertensi dilakukan pemeriksaan lanjut,terdiri dari kolesterol total, trigliserida, serta LDL dan HDL untuk penyakit tidak menular. Termasuk dilakukan pemeriksaan cek Tuberkulosis yang memang salah satu penyakit bisa menular ke manusia,” ucap drg. Tina Arriani.

drg. Tina Arriani mengatakan, kurang lebih ada 750 jiwa warga Kampung Nelayan Seberang telah melakukan deteksi dini pemeriksaan CKG. Jumlah itu kurang lebih 40 persen dari total populasi warga di sana. Baginya, langkah kecil mereka hadir membawa kepedulian bagi sesama. Sebab, sebelum CKG berjalan, drg. Tina Arriani bercerita cakupan kesadaran cek kesehatan masyarakat jauh lebih sedikit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....