Cegah Stunting, CKG “Jemput Bola” Mengawal Kesehatan Anak Bangsa

  • 27 Agt 2026 11:28 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak mengenal usia dan waktu. CKG telah menjadi benteng kesehatan bagi semua usia, guna memastikan tubuh sehat dan bugar.

Hal sederhana itu terlihat pada kegiatan CKG “Jemput Bola” yang dilaksanakan Puskesmas Medan Sunggal di Jalan Kemuning Tanjung Rejo, pada Rabu, 22 Juli 2026. Ratusan siswa kelas I hingga kelas VI di SD Negeri 060922 Medan, tanpa ragu dan takut menjalani rangkaian pemeriksaan mulai dari pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, pemeriksaan mata, pengukuran tinggi dan berat badan.

Cika, anak kelas 6 SD mengaku awalnya takut untuk lakukan pemeriksaan CKG karena melihat petugas atau dokter. Namun, takutnya menjadi riang saat dokter melakukan pemeriksaan dengan begitu humanis dan memastikan anak-anak nyaman menjalani pemeriksaan.

“Awalnya gak berani karena takut disuntik. Rupanya, Cuma diperiksa gigi dan mulut. Senang karena gigi aku ternyata sehat dan dokternya ramah dan cantik,” kata Cika.

Hal yang sama juga disampaikan Dian, siswa kelas 5 SD yang justru senang dengan adanya program CKG. Selain pelayanan yang ramah dan nyaman, Dian juga senang cita-citanya menjadi tentara terbuka setelah sang dokter mengatakan tinggi badannya proporsional.

“Tinggi badanku 145 centimeter kata dokter. Katanya bisa jadi polisi atau tentara sesuai cita-cita saya. Kalau biosa jadi dokter juga mau,” ujarnya sambil tersenyum.

Pemeriksaan selain melakukan screening bagi kesehatan siswa, sekaligus mengantisipasi adanya masalah pada tumbuh kembang anak, termasuk mencegah angka stunting.

Petugas CKG, drg. Nur Ashfiraihani kepada RRI, mengatakan dalam program CKG untuk tingkat sekolah dasar lebih fokus pada pemeriksaan fisik atau bagian tubuh yang sensitif. Hal ini memang menjadi SOP bagi petugas, untuk memastikan anak-anak tidak hanya sadar tentang kondisi kesehatan diri sendiri, namun juga membiasakan menghindari tubuhnya dari masalah yang lebih serius.

“Kami melakukan pemeriksaan tinggi, berat badan, pemeriksaan gigi. Kalau mata, karena masih anak-anak SD, kita hanya menanyakan ada beberapa anak yang pakai kacamata. Tapi secara umum, mata anak-anak di sini masih baik,” kata drg. Nur Ashfiraihani.

Secara umum, drg. Nur Ashfiraihani mengatakan gigi merupakan masalah krusial bagi anak-anak SD. Meski tidak terlalu berdampak bagi kesehatan organ, menjaga kualitas kebersihan gigi adalah pelajaran dasar bagi SD dalam menjadi harapan mereka menjadi generasi ‘Bahagia”.

“Kalau untuk tadi kita lakukan pemeriksaan gigi, ada beberapa anak yang untuk gigi berlubang dan kalau kita bilang persistensi, bahwasannya gigi permanennya sudah tumbuh. Tapi, gigi susunya masih ada di situ, Itu kita hancurkan untuk melakukan perawatannya ke puskesmas,”

“Jadi, untuk tindak lanjut selanjutnya, anak-anak dibantu sama orang tuanya diantar ke puskesmas akan kita lakukan pencabutan gigi untuk gigi susunya,” ujar Nur Ashfiraihani.

Selain itu, dikatakan drg. Nur Ashfiraihani bahwa CKG ini langkah awal untuk mencegah anak dengan stunting. CKG bisa melakukan deteksi dini tentang ciri-ciri anak dengan stunting, seperti berat dan tinggi badan termasuk pola makan anak sehari-hari.

“Jadi kalau anak SD ini kan, istilahnya kita mesti mengukur untuk gizinya. Jadi, mulai dari tinggi badan, berat badannya, itu yang lebih fokus kita ukur untuk pemeriksaan. Kalau anak SMP, SMA, itu kita akan melakukan pemeriksaan kadar gula darah ditambah pemeriksaan HB,” ucapnya.

Sementara, Kepala Sekolah SD Negeri 060922, Ermanida mengatakan melalui program CKG sebagai bentuk alarm bagi orang tua untuk aware terhadap kesehatan anak. Melalui CKG pula, pihaknya akan lakukan rekomendasi lanjut, jika kesehatan anak butuh penanganan lebih lanjut.

“Selama ini tidak ada, tapi tadi pemeriksaan hari ini, ada beberapa orang yang bermasalah di gigi susunya, maka dokternya mengharapkan kepada pihak sekolah untuk memberitahu kepada orang tuanya. Kemudian besok anak yang bermasalah di gigi susunya itu untuk diperiksa kembali ke dokter biar dilanjutkan pemeriksaan untuk kesehatan mereka,” ucap Ermanida.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Medan pada 2025, 5 Kecamatan di kota Medan dengan angka stunting tertinggi. Diantaranya Medan Marelan (24 anak), Medan Belawan (22), Medan Selayang (13), Medan Sunggal (13), dan Medan Labuhan (12 anak).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....