Maruli Siahaan dan BPIP Dorong Penguatan Pancasila Hadapi Era Disrupsi Digital
- 06 Agt 2026 19:28 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Anggota Komisi XIII DPR RI, Maruli Siahaan bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila bertema "Pancasila Sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa: Menjawab Disintegrasi, Krisis Kepercayaan Publik, dan Tantangan Kesehatan Jiwa Generasi Muda" di Andaliman Hall, Medan, Kamis, 6 Agustus 2026.
Maruli mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pemahaman terhadap Pancasila menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun karakter dan moralitas generasi penerus bangsa.
"Kita takut nanti regenerasi muda ini daya juangnya berkurang. Tapi kalau dia betul-betul paham tentang Pancasila, mulai sila pertama sampai sila kelima, di situlah salah satu sarana untuk membangun moralitas kita," kata Maruli.
Ia menilai kemerdekaan dan kehidupan berbangsa yang dinikmati saat ini harus dipertahankan dengan terus menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga individu, kelompok, relawan, hingga seluruh elemen masyarakat.
"Kita undang dari berbagai suku dan lapisan masyarakat supaya mereka nanti menyampaikan nilai-nilai Pancasila kepada sesama dan lingkungan sekitarnya. Harapannya ada perubahan dalam diri, lebih disiplin, dan memahami pentingnya Pancasila," ujarnya.
Maruli juga menyoroti disrupsi digital sebagai salah satu tantangan dalam memperkuat ideologi bangsa. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak dapat dihindari dan memberikan banyak manfaat, tetapi masyarakat, khususnya generasi muda, harus tetap menjunjung nilai kebersamaan, persatuan, dan moralitas agar tidak tergerus dampak negatif perkembangan digital.
"Digital itu sangat bagus. Tapi jangan sampai karena sibuk menguasai digital, rasa kebersamaan, rasa persatuan, dan moralitas hilang. Jangan juga terbawa arus informasi yang tidak bermanfaat maupun hoaks," katanya.
Menurut Maruli, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar dan meningkatkan produktivitas, bukan membuat generasi muda bergantung pada jawaban instan yang dapat mengurangi daya pikir kritis.
"Teknologi memang sangat perlu, tetapi harus digunakan secara bijak. Jangan sampai membuat kita tidak lagi terbiasa berpikir kritis karena semua jawaban sudah tersedia," katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Edi Subowo menegaskan Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga pedoman etika dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, penerapan nilai-nilai Pancasila akan menciptakan kehidupan yang harmonis sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
"Kalau semua dilandasi nilai-nilai Pancasila, saya yakin kehidupan akan lebih nyaman dan masyarakat lebih tenang. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar bahwa masyarakat Indonesia hidup sesuai keyakinannya masing-masing dengan tetap saling menghormati," kata Edi.
Ia menjelaskan sila kedua mengajarkan nilai kemanusiaan melalui sikap saling menghormati dan tolong-menolong sebagai makhluk sosial. Adapun sila ketiga menjadi perekat bangsa yang menyatukan masyarakat Indonesia yang beragam suku, agama, budaya, dan bahasa.
"Yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke adalah Pancasila. Karena itulah Indonesia tetap bersatu meskipun memiliki banyak perbedaan," ujarnya.
Selain itu, Edi mengatakan sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, sedangkan sila kelima menekankan keadilan yang diberikan sesuai hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing.
"Adil itu tidak berarti harus sama. Adil adalah memberikan sesuai dengan porsi dan tugas masing-masing,"ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti dialog interaktif yang menghadirkan dua narasumber. Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara, Fernanda Putra Adela, memaparkan materi mengenai negara hukum, konstitusi, partisipasi warga, pentingnya membangun kepercayaan publik, serta penguatan ketahanan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Sementara itu, Lektor Universitas Sumatera Utara sekaligus psikolog, Rika Eliana, membahas tantangan kesehatan jiwa generasi muda di era digital, mulai dari tekanan akibat perkembangan teknologi, kecemasan sosial, hingga pentingnya membangun ketahanan mental dan dukungan komunitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....