Bawang Impor Illegal Resahkan Petani Sumut, Mahasiswa Dorong Tindakan Tegas

  • 27 Mei 2026 20:00 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), menggelar diskusi publik bertema “Stop Bawang Merah Ilegal” di Aula Soeratman Fakultas Pertanian USU, Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan tersebut membahas maraknya peredaran bawang merah ilegal yang dinilai merugikan petani lokal di Sumatera Utara (Sumut).

Ketua BEM Fakultas Pertanian USU, Muhammad Haikal Ramadhan mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi petani bawang. Menurutnya, petani bawang semakin tertekan akibat masuknya bawang ilegal ke pasar Sumatera Utara.

“Hari ini kami membawa masyarakat petani yang sampai sekarang merasa belum ada keberpihakan terhadap petani. Karena itu kami berinisiatif bersama untuk melakukan diskusi agar ditemukan solusi atas permasalahan yang sudah terjadi selama tiga bulan terakhir,” ujarnya.

Menurut Haikal, berbagai aksi dan upaya penyampaian aspirasi telah dilakukan para petani, namun hingga kini bawang ilegal masih terus beredar di pasaran. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas agar kondisi tersebut tidak semakin merugikan petani lokal.

“Sampai sekarang bawang ilegal itu masih tetap ada. Harapan kami supaya petani tetap sejahtera dan tidak semakin tercekik, maka peredaran bawang ilegal harus dihentikan,” katanya.

Sementara itu, petani bawang asal Kabupaten Karo, Rosimah Tarigan mengaku para petani saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan. Mulai dari anjloknya harga jual bawang, hingga meningkatnya serangan hama tanaman.

“Pertama-tama kami sangat resah karena harga jual hasil petani sangat anjlok. Itu bisa merusak kesejahteraan kami sebagai petani,” ucapnya.

Rosimah mengatakan maraknya bawang ilegal membuat petani kesulitan memasarkan hasil panen dengan harga yang layak. Karena itu, para petani meminta pemerintah tidak hanya memberikan janji, tetapi segera mengambil tindakan nyata terhadap pelaku impor ilegal.

“Kami berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji-janji lagi kepada para petani. Kami mau tindakan nyata. Seperti yang disampaikan Menteri Pertanian, tangkap dan penjarakan,” katanya.

Ia juga menegaskan para petani bersama mahasiswa akan terus mengawal persoalan tersebut. Bahkan, jika pemerintah dinilai masih lambat bertindak, para petani tidak menutup kemungkinan akan kembali melakukan aksi lanjutan.

“Kami tidak bisa berjuang sendiri. Jadi kami butuh bantuan dan dukungan dari mahasiswa serta para petani di Sumatera Utara,” ucapnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....