Standar dan Pengawasan Gizi di MBG Tanjungbalai

  • 12 Feb 2026 09:47 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Tanjungbalai - Ahli gizi di setiap Satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) terus memperketat pengawasan serta penerapan standar gizi pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap paket makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat memenuhi kebutuhan gizi seimbang dan layak konsumsi.

Atika Rahmadani Putri, salah satu ahli gizi SPPG Polres Tanjungbalai menyampaikan, bahwa pengawasan dilakukan secara berkala, mulai dari proses pengadaan bahan baku, pengolahan, hingga pendistribusian makanan. Setiap tahapan diawasi ketat agar kualitas, kebersihan, serta kandungan gizi makanan tetap terjaga.

“Jadi untuk kelengkapan gizi pada isi dari menu itu sendiri, kita harus memenuhi kebutuhan gizi dari anak-anak yang kita beri makanan, yaitu ada kelengkapannya karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, serta buah-buahan. Setelah itu kita lakukan kembali pemeriksaan mengenai apa saja yang mereka butuhkan, misalnya untuk anak-anak usia sekolah SMP dan SMA itu tergolong dari porsi besar, dimana mereka itu membutuhkan sekitar 600 sampai 700 kilo kalori untuk sekali makannya yaitu 30 sampai 35 persen kebutuhan per hari, untuk porsi kecilnya itu sekitar 400 sampai 500 kilokalori,” kata Atika.

Setelah itu dilakukan pemeriksaan bahan makanan berdasarkan langkah-langkahnya yang pertama pemeriksaan bahan baku yaitu penerimaan barang dimana barang itu harus masuk ke dapur dalam kondisi segar seperti sayuran dan juga buah-buahan, daging dan ayam itu harus diperiksa, kemudian masuk ke ruang penyimpanan.

“Disimpan ada juga berbagai suhu yang berbeda, dimana kalau untuk daging dan daging ayam itu suhunya minus 5 sampai dengan 0 derajat, sementara untuk sayuran buah-buahan itu di 10 derajat Celcius. Setelah itu di pengolahan, untuk pengolahan itu kita masaknya dimulai dari jam 2 pagi dan itu ada sip-sipnya, jadi tidak sekali masak dalam satu waktu karena Pengantaran juga itu berbeda, ada yang pagi seperti TK itu kita di jam 8 sudah melakukan pengantaran, di SD jam 9, di SMA itu jam 10 sampai jam 11,” ucapnya. Rabu, 11 Februari 2026.

Atika mengatakan, bahwa tahapan masaknya juga berbeda, untuk TK itu dimulai dari jam 2 pagi, setelah itu proses pendinginan agar dalam ompreng itu tidak mudah basi karena ditutup. Selanjutnya, ada namanya uji organoleptik.

“Kalau untuk kita sendiri, terdiri dari dua uji, organoleptik dan juga uji lab, dimana organoleptik ini dengan menggunakan rasa, penciuman, bau, aroma, dan juga warna. Jadi kita lihat dulu apakah makanan itu yang pertama dari baunya layak dikonsumsi, apakah masih bisa dikonsumsi, itu bertahap juga. Yang pertama di pagi hari sebelum distribusi, yang kedua di siang hari untuk anak SMA. Jadi ada dua kali pengujian,” ujarnya.

Selanjutnya dilakukan uji lab dari dokest di mana mereka melakukan uji formalin, cyanida, dan lain-lain. Jadi, dilihat apakah makanan itu bebas dari fosfat, formalin, dan juga cyanida. Setelah itu, pihak SPPG juga melakukan double check, di mana pihak dapur memberikan formulir kepada setiap sekolah.

“Setelah kami uji organoleptik dari SPPG sendiri, kami berikan ke sekolah. Jadi, pihak PIC dari sekolah itu, yaitu guru-guru, sebelum makanannya dimakan anak-anak, mereka wajib organoleptik juga apakah makanan itu layak, ketika sampel yang diberikan tidak layak maka semua makanan yang sudah didistribusikan ke sekolah tersebut bisa dipulangkan dan kita ganti dengan yang baru,” kata ahli gizi SPPG Polres Tanjungbalai.

Masyarakat berharap, pengawasan yang ketat dan penerapan standar gizi yang baik, program MBG dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan, kecerdasan, dan tumbuh kembang generasi muda. Program MBG ini juga menjadi salah satu upaya strategis Pemerintah Indonesia dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing demi terwujudnya Indonesia EMAS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....