Play Victim: saat seseorang terjebak dalam mentalitas korban
- 18 Feb 2026 21:09 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Istilah play victim merujuk pada perilaku seseorang yang secara konsisten menempatkan diri sebagai korban dalam berbagai situasi, bahkan ketika fakta menunjukkan sebaliknya. Orang dengan kecenderungan ini sering kali menghindari tanggung jawab, menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi, dan mencari simpati untuk mendapatkan pembenaran atau perhatian. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku ini bisa muncul dalam hubungan pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.
Dilansir dari laman www.psychologytoday.com Secara psikologis, perilaku play victim dapat berkaitan dengan apa yang disebut sebagai victim mentality atau mentalitas korban. Menurut penjelasan dari Psychology Today, mentalitas korban adalah pola pikir di mana seseorang merasa dunia selalu tidak adil terhadapnya dan meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas situasi yang dihadapi. Pola pikir ini bisa terbentuk dari pengalaman masa lalu, pola asuh, atau trauma tertentu yang belum terselesaikan.
Dikutip dari laman www.healthline.com Orang yang sering play victim biasanya menunjukkan beberapa ciri, seperti sulit menerima kritik, gemar membesar-besarkan masalah, serta memanipulasi emosi orang lain agar merasa bersalah. Dalam hubungan sosial, perilaku ini dapat menjadi bentuk manipulasi emosional karena membuat pihak lain merasa bertanggung jawab atas perasaan atau kegagalan dirinya. Healthline menjelaskan bahwa victim mentality dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan interpersonal jika tidak disadari dan diatasi.
Namun, penting untuk membedakan antara benar-benar menjadi korban dengan sekadar memainkan peran korban. Tidak semua orang yang mengeluh atau merasa terluka berarti sedang play victim. Dalam beberapa kasus, seseorang memang mengalami ketidakadilan nyata. Perbedaannya terletak pada kesediaan individu untuk mengambil tanggung jawab dan mencari solusi, bukan hanya mencari simpati atau menyalahkan pihak lain.
Dampak dari kebiasaan play victim bisa cukup serius. Hubungan sosial dapat renggang karena orang lain merasa lelah menghadapi pola menyalahkan yang berulang. Di dunia kerja, perilaku ini juga dapat menghambat perkembangan karier karena kurangnya kemampuan untuk melakukan refleksi diri dan evaluasi. Oleh karena itu, kesadaran diri, terapi psikologis, serta pembelajaran tentang regulasi emosi menjadi langkah penting untuk mengubah pola pikir tersebut.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki tantangan hidup masing-masing. Mengakui kesalahan, belajar dari pengalaman, dan berani bertanggung jawab adalah bagian dari proses pendewasaan. Dengan memahami fenomena play victim, kita dapat lebih bijak dalam menilai situasi, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
(Stanly Kalumata)