Lima Ribu Kedai Kopi di Sulut Serap 15 Ribu Tenaga Kerja
- 07 Mar 2026 20:01 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Bisnis kedai kopi di Sulawesi Utara terus menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Data Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Utara mencatat sekitar 5.000 usaha kedai kopi tersebar di berbagai daerah dan mampu menyerap sekitar 15.000 tenaga kerja.
Kepala Bidang SDM Restrukturisasi Usaha Dinas Koperasi dan UMKM Sulut, Alexander Rompies, mengatakan meningkatnya jumlah kedai kopi menjadi indikator tumbuhnya sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di daerah tersebut.
“Di Sulawesi Utara ada sekitar 5 ribu usaha kedai kopi dan itu menyerap kurang lebih 15 ribu tenaga kerja. Ini menunjukkan sektor kopi memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah,” kata Alexander dalam dialog publik Sulut Bicara di RRI Manado, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurutnya, selain membuka peluang usaha baru, bisnis kopi juga berdampak pada peningkatan pendapatan daerah, khususnya dari sektor pajak di tingkat kabupaten dan kota.
Alexander menambahkan, Sulawesi Utara sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam produksi kopi. Pada abad ke-19, kopi dari wilayah ini bahkan menjadi salah satu komoditas unggulan yang diminati pasar Eropa pada masa kolonial.
Saat ini, produksi kopi di Sulawesi Utara diperkirakan mencapai sekitar 3.000 ton per tahun dengan luas lahan sekitar 5.000 hingga 6.000 hektare. Sebagian besar produksi berasal dari wilayah Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Timur.
Pemerintah daerah pun terus mendorong penguatan ekosistem bisnis kopi, baik dari sisi hulu maupun hilir. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pelatihan bagi pelaku UMKM.
“Kami telah melaksanakan berbagai pelatihan barista serta kewirausahaan bagi pelaku UMKM kopi, dan ke depan akan terus ditingkatkan agar usaha kopi di Sulut semakin berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, pemerhati ekonomi kreatif Daniel Tampi menilai tren bisnis kopi di Sulawesi Utara saat ini memang sedang meningkat, termasuk dengan munculnya konsep usaha baru seperti coffee truck atau kedai kopi berjalan.
Meski demikian, ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya mengikuti tren tanpa perencanaan yang matang.
“Banyak usaha kopi muncul karena tren, tapi ketika menghadapi tantangan akhirnya tidak bertahan. Karena itu pelaku UMKM perlu memperkuat kualitas produk, branding, serta manajemen keuangan,” katanya.
Hal senada disampaikan pelaku usaha kopi, Andika Rorimpandey, pemilik Keyma Coffee. Ia mengatakan bisnis kopi memang memiliki peluang besar, namun persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi.
“Awalnya kami mulai dari kedai kecil karena hobi minum kopi, kemudian mengikuti perkembangan dengan membuka coffee truck. Tapi sekarang persaingan semakin banyak, jadi harus terus berinovasi agar usaha tetap bertahan,” ujarnya.
Dengan potensi produksi kopi lokal serta pertumbuhan usaha kedai kopi yang pesat, sektor UMKM kopi dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang sekaligus memperkuat ekonomi kreatif di Sulawesi Utara.