Akademisi Dorong Affirmative Action Atasi Ketimpangan Gender

  • 23 Feb 2026 15:13 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju- Akademisi mendorong penerapan tindakan afirmatif atau affirmative action sebagai langkah nyata untuk mengurangi ketimpangan dan diskriminasi gender yang masih terjadi.

Sebagai informasi, Affirmative action adalah kebijakan yang diambil yang bertujuan agar kelompok atau golongan tertentu, dalam hal ini adalah perempuan, memperoleh peluang yang setara dengan kelompok atau golongan lain, yang dalam hal ini adalah laki-laki.

Hal tersebut disampaikan Tenaga Pendidik Universitas Sulawesi Barat, Sriwiyata Ismail, dalam dialog interaktif Pengarusutamaan Gender RRI Mamuju, Senin, 23 Februari 2026.

Ia menjelaskan, bahwa pemerintah serta para pemangku kepentingan perlu mengambil langkah nyata melalui tindakan afirmatif guna mengoreksi ketidaksetaraan gender yang masih terjadi.

"Setelah pemerintah memiliki kacamata gender, para pemangku kepentingan ini masuk ke dalam tahap mengambil aksi dalam bentuk affirmative action untuk mengoreksi ketimpangan dan diskriminasi yang terjadi. Dikoreksi dulu ketidaksetaraan, yang mana artinya dia akan mengambil tindakan yang tidak netral, yang tidak status quo atau yang seperti yang ada saat ini," ujarnya.

Menurutnya, kebijakan yang bersifat netral atau mempertahankan kondisi hukum yang berjalan saat ini, tidak akan membawa perubahan dan justru dapat memperpertahankan ketimpangan gender yang masih terjadi.

"Karena dia akan paham bahwa ketika dia mengambil kebijakan yang netral atau status quo, itu tidak akan merubah keadaan dan justru dapat mempertahankan ketimpangan yang ada atau dalam hal ini melemahkan atau merugikan perempuan," jelasnya.

Sriwiyata menambahkan, tanpa adanya kesadaran gender oleh pemerintah, maka kondisi ketimpangan gender akan terus berlanjut dan perempuan akan tetap termarginalisasi.

"Jika kesadaran gender tidak ada, affirmative action tidak diambil, kebijakan progresif tidak dibuat, maka kita tidak bisa mengubah keadaan. Perempuan akan tetap termarginalisasi, kepentingan dan kebutuhannya akan diabaikan, serta mereka akan terus menghadapi masalah yang sama," tambahnya.

Sriwiyati berharap, pengarusutamaan gender dapat diwujudkan dalam setiap kebijakan yang diambil, agar dapat menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi semua pihak.

Rekomendasi Berita