Orangtua Pendidik Haruslah Pribadi yang Juga Terdidik

  • 04 Agt 2025 09:11 WIB
  •  Mamuju

KBRN, Mamuju : Di era modern seperti sekarang ini, orang tua tidak lagi sekadar berperan hanya untuk memenuhi kebutuhan materi anak, namun juga harus menjadi pendidik utama dalam kehidupan mereka.

Orang tua yang terdidik memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter, pola pikir, dan masa depan anak-anaknya. Pendidikan yang dimiliki orang tua tidak semata-mata diukur dari ijazah formal, tetapi juga dari wawasan, keterbukaan pikiran, serta kemampuan mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan.

Lalu, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan orang tua yang terdidik? Dalam Surah Al-Furqan disebutkan bahwa salah satu ciri dari orang tua yang terdidik adalah mereka yang mampu membiasakan diri untuk banyak berinteraksi dengan Allah melalui doa.

Mereka senantiasa memanjatkan doa seperti yang dituliskan dalam surah Al-Furqan Ayat 65 yang berbunyi “Rabbana As-rif ‘anna ‘adzaaba jahannama, inna ‘adzaabahaa kaana ghoroomaa,” yang artinya “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami, karena sesungguhnya azab Jahannam itu adalah kebinasaan yang kekal.” Doa ini menjadi pengingat bahwa orang tua yang terdidik memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya yang tidak hanya ditunaikan di dunia, tetapi juga di akhirat.

Selain itu, ciri orang tua yang terdidik juga tampak dari cara mereka mengelola harta. Mereka gemar berinfak, tetapi tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa orang-orang seperti ini berada di tengah-tengah: mereka dermawan, suka memberi, tetapi tetap bijak dalam membelanjakan hartanya.

Sikap pemurah inilah yang sepatutnya menjadi budaya yang dibiasakan di dalam keluarga. Dengan demikian, anak akan meneladani sifat murah hati dan kepedulian kepada sesama.

Spirit lain yang harus dibangun dalam rumah tangga adalah semangat untuk memberi dan melayani. Pernikahan bukanlah sekadar tentang keinginan untuk selalu dilayani, tetapi juga kesiapan untuk melayani. Bukan hanya ingin disayangi, tetapi juga mau menyayangi tanpa pamrih.

Seringkali, masalah rumah tangga muncul karena di awal pernikahan pasangan hanya membayangkan kebahagiaan semu. Apalagi jika pernikahan diawali dengan pacaran yang penuh dengan fatamorgana. Saat menjalani masa pacaran terlihat manis, tetapi setelah menikah sifat asli mulai muncul. Kebahagian semu akan keromantisan dan perhatian itulah yang selalu terbayang yang tak lagi didapati saat membina rumah tangga.

Setelah menikah, tujuan yang harus dijunjung tinggi adalah bagaimana memberi sebanyak-banyaknya, memberi setulus-tulusnya, tanpa banyak menuntut balasan. Menikah adalah lautan kesabaran. Bagi siapa pun yang tidak siap bersabar atau tidak memiliki ilmu tentang kesabaran, sebaiknya jangan terburu-buru terjun ke dalamnya.

Karena pada akhirnya, ujian terbesar kita justru datang dari orang-orang yang paling kita cintai: istri atau suami kita yang kadang cerewet, punya banyak keinginan, serta anak-anak kita sendiri yang harus dididik dan dibimbing dengan penuh kesabaran.

Selain itu, orang tua yang terdidik adalah mereka yang terus belajar sepanjang hidupnya. Mereka mau membuka diri terhadap pengetahuan baru, berdiskusi, membaca, dan mengajarkan nilai-nilai baik kepada anak-anak melalui teladan nyata.

Mereka tidak mudah puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi selalu merasa perlu memperbaiki diri.

Lingkungan keluarga yang dibangun orang tua terdidik adalah rumah yang penuh doa, saling menghormati, saling mendukung, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Anak yang tumbuh di dalamnya akan merasakan kasih sayang sekaligus ketegasan, kebebasan sekaligus tanggung jawab.

Maka, orang tua yang terdidik adalah pilar penting dalam membangun generasi yang berakhlak mulia, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang terdidik, tidak hanya di mata manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Rekomendasi Berita