Harga Emas Antam Melonjak Tajam Jadi Dua Jutaan

  • 05 Jan 2026 09:33 WIB
  •  Malinau

KBRN, Malinau: Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) kembali mencatatkan lonjakan signifikan pada awal pekan ini. Berdasarkan pantauan situs resmi Logam Mulia, Senin (5/1/2026) pukul 08.17 WIB, harga emas Antam kini dibanderol Rp2.515.000 per gram.

Nilai tersebut melonjak sebesar Rp27.000 dibandingkan posisi Sabtu pekan lalu yang berada di level Rp2.488.000 per gram. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri fase pelemahan harga yang sempat terjadi pada penutupan pekan pertama Januari 2026.

Sejalan dengan kenaikan harga jual, nilai buyback atau harga pembelian kembali juga terdongkrak. Harga buyback saat ini berada di level Rp2.371.000 per gram, naik Rp25.000 dibandingkan periode sebelumnya.

Dewi, seorang investor emas di Kabupaten Malinau, menilai lonjakan harga ini masih berkaitan erat dengan momentum pergantian tahun dan sentimen pasar global.

“Pekan lalu bertepatan dengan pergantian tahun dan sempat terjadi koreksi setelah sebelumnya mencetak rekor harga tertinggi,” ujar Dewi saat dihubungi pada Senin pagi.

Menurutnya, meski sempat terjadi penurunan dalam satu atau dua pekan terakhir, angka tersebut belum sebanding dengan akumulasi kenaikan yang terjadi selama beberapa bulan ke belakang. Secara jangka menengah dan panjang, tren harga emas dinilai masih akan terus menguat.

“Kalau ditarik mundur, penurunan kemarin sebenarnya tidak terlalu besar karena secara akumulasi harga emas sudah naik cukup tinggi,” tambahnya.

Meski menguntungkan bagi pemilik aset, Dewi berharap harga emas tidak melonjak terlalu tajam dalam waktu dekat agar tetap terjangkau bagi masyarakat umum. Kenaikan harga yang terlalu agresif dikhawatirkan dapat menahan minat beli, terutama dari kalangan investor ritel.

“Harapannya harga jangan terlalu naik dulu supaya tidak membebani masyarakat yang baru ingin mulai berinvestasi emas,” tuturnya.

Kenaikan harga pada awal pekan ini menjadi sinyal kuat bahwa pergerakan logam mulia masih akan sangat fluktuatif, mengikuti dinamika pasar global, nilai tukar rupiah, serta ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....