Pemkab Malinau Siapkan Intervensi Sikapi Harga Cabai Mahal

  • 22 Jun 2026 19:52 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Pemkab Malinau akan mengintervensi sektor pertanian cabai melalui peningkatan produksi dan perluasan penanaman guna mengendalikan inflasi daerah.
  • Musim kering yang mulai melanda menjadi tantangan utama, sehingga pemerintah mendorong pemetaan wilayah potensial untuk pengembangan cabai dan padi.

RRI.CO.ID, Malinau - Pemerintah Kabupaten Malinau menyiapkan langkah intervensi untuk meningkatkan produksi cabai menyusul tingginya harga komoditas tersebut yang dinilai berpengaruh terhadap perkembangan inflasi daerah.

Upaya itu menjadi salah satu tindak lanjut hasil rapat pengendalian inflasi nasional yang diikuti jajaran Pemkab Malinau secara virtual dari ruang rapat Intulun, Kantor Bupati Malinau pada Senin (22/6/2026).

Wakil Bupati Malinau, Jakaria, mengatakan secara umum kondisi inflasi di Kabupaten Malinau, masih relatif terkendali. Tingkat inflasi daerah juga belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Meski demikian, pemerintah daerah memberi perhatian khusus terhadap harga cabai yang belakangan ini relatif mahal. Komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi di daerah.

"Kalau ini cabe memang fluktuatif, kadang naik, kadang turun. Ini perlu intervensi ke petani supaya petani lebih menggalakkan lagi penanaman cabe," kata Jakaria usai mengikuti rapat tersebut.

Organisasi perangkat daerah terkait telah diminta mengambil langkah guna mendorong peningkatan produksi cabai. Penambahan luas tanam dan peningkatan produksi disebut sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan pasokan di pasaran, kendati upaya tersebut menghadapi tantangan kondisi cuaca.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Malinau saat ini mulai memasuki musim kering yang berpotensi memengaruhi sektor pertanian.

"Cuman permasalahan kita menurut BMKG, kita sekarang berhadapan dengan musim kering," ujarnya.

Dinas Pertanian dan dinas terkait didorong untuk memetakan wilayah yang masih memungkinkan untuk pengembangan tanaman cabai selama musim kemarau.

Komoditas padi juga mendapat perhatian dalam upaya menjaga stabilitas harga. Jakaria mengatakan, pengembangan musim tanam berikutnya akan diarahkan ke wilayah pasang surut yang dinilai memiliki potensi lebih baik dalam menghadapi musim kering.

Menurutnya, kawasan tersebut masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi padi sawah karena ketersediaan air lebih terjaga dibandingkan wilayah lainnya.

Jakaria menambahkan, daya beli masyarakat di Kabupaten Malinau hingga kini masih stabil. Pemerintah daerah juga terus berupaya menekan harga kebutuhan pokok sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....