‎Mural Antikorupsi Warnai Siring Beton Kuala Lapang

  • 26 Nov 2025 14:10 WIB
  •  Malinau

‎KBRN, Malinau : Siring beton PDAM di kawasan Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat kini bertabur pesan antikorupsi melalui karya mural para seniman Malinau. Pemandangan ini menjadi bagian dari kampanye penguatan integritas pada Inspektorat Kabupaten Malinau melalui lomba mural antikorupsi.

‎Setelah lima hari pelaksanaan, agenda tersebut berakhir pada Selasa (25/11/2025) sore ditandai dengan pengumuman pemenang dan seremoni penutupan. Puluhan seniman Malinau menghasilkan ragam karya mural yang sarat pesan.

‎Inspektur Inspektorat, Dani Subroto, menjelaskan, lomba mural antikorupsi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025, yang puncaknya pada 9 Desember mendatang.

‎"Lomba mural ini menjadi bagian dari kampanye edukatif pencegahan korupsi kepada publik. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat budaya integritas dan antikorupsi di semua lapisan masyarakat," ujarnya saat penutupan, Selasa (25/11/2025).

‎Tim Satya Wisesa, yang merupakan anggota Polres Malinau berhasil keluar sebagai juara. Kelompok ini beranggotakan Bripda Brigel Boja, Bripda Diki Setiawan, dan Bripda Diki Kurniawan, yang merupakan rekan seangkatan di sekolah kepolisian.

‎Para seniman muda yang baru enam bulan resmi berdinas di kepolisian ini menyampaikan bahwa mengikuti lomba ini merupakan dorongan untuk mengedukasi melalui karya visual. Karya mereka mengangkat simbol-simbol lokal untuk mengajak generasi muda melawan praktik korupsi.

‎Dalam karyanya, tim ini menonjolkan figur burung enggang sebagai instrumen utama, visual tikus sebagai simbol koruptor, polisi sebagai simbol penegak hukum, masyarakat adat, dan gedung. Semua unsur ini menyatu membentuk visual yang kuat dan mudah dipahami meski tanpa banyak narasi.

‎“Burung enggang melambangkan persatuan, dari sayapnya yang melengkung, itu seperti ajakan untuk kita bersama-sama melawan korupsi, kakinya yang mencengkeram tikus melambangkan pemberantasan praktik korupsi dan gedung-gedung simbol harapan pembangunan yang merata ketika korupsi dapat diberantas,” kata Brigel Boja.

‎Sementara itu, tim lainnya, yang beranggotakan gabungan pelajar dari beberapa SMP dan SMA/SMK, yakni Fani, Maribel, dan Fahri, memvisualisasikan karya berupa tembok, palu sebagai simbol pemberantasan, kepala burung enggang, serta tiga dampak korupsi.

‎"Warna dasarnya abu-abu, itu tembok sebenarnya, simbol tempat di mana biasanya para koruptor berada, atau tempat di mana praktik korupsi dilakukan, kemudian kami juga gambar dampak korupsi, inflasi, ketimpangan ekonomi, dan demonstrasi sebagai ekspresi protes publik,” ujar Fani.

‎Upaya kampanye melalui seni mural ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman publik tentang bahaya korupsi sekaligus memperkuat budaya integritas di semua lini kehidupan. Pencegahan korupsi dinilai membutuhkan sinergi lintas sektor, baik pemerintah, maupun masyarakat.

Rekomendasi Berita