Langkah Panjang Penjual Bendera, Menyemai Semangat Merah Putih di Perbatasan

  • 12 Agt 2025 14:56 WIB
  •  Malinau

‎KBRN, Malinau : Sejak akhir Juli, jalanan kota perlahan berubah menjadi lebih berwarna. Deretan bendera, umbul-umbul, dan pita berwarna cerah mulai menghiasi kota jelang euforia hari kemerdekaan 17 Agustus.

‎Di balik warna-warna itu, ada kisah perjalanan panjang para pedagang musiman seperti Tatang, pria asal Garut yang telah lebih dari sepuluh tahun setia datang setiap momen kemerdekaan untuk berjualan bendera dan atribut kemerdekaan lainnya di Malinau.

‎"Dari zaman Pak Yansen," Tutur Tatang, menggambarkan tahun-tahun panjangnya sebagai penjual bendera musiman. Jika ditarik kesimpulan, sudah belasan tahun Tatang rutin ke Malinau jelang perayaan kemerdekaan.

‎Bendera merah putih menjadi saksi bisu semangat yang tak pernah pudar. Perjalanan panjang dan pengorbanan yang dilaluinya menguak kisah yang lebih dari sekedar berdagang, tetapi juga tentang menjaga tradisi dan menyalakan semangat patriotisme.

‎Dari Surabaya, Tatang bersama tiga rekannya menempuh perjalanan selama lima hari menggunakan kapal laut menuju Malinau. Dengan biaya operasional sekitar 1,5 juta rupiah, termasuk tiket kapal dan speedboat, serta kebutuhan sehari-hari.

‎Mereka rela berpisah dari keluarga demi kesempatan berjualan di wilayah yang jauh dari kampung halaman. Di Malinau, mereka berbagi kamar kos seharga 600 ribu rupiah per bulan, membentuk semacam keluarga kecil yang saling menguatkan.

‎Rombongan Tatang bukan satu-satunya yang mencoba peruntungan dari berjualan atribut kemerdekaan dari Garut. Ada banyak Tatang lain yang menyebar ke wilayah Kaltara, bahkan hampir di seluruh wilayah tanah air, membawa produk home industry ini.

‎"Kita semua nyebar ke seluruh Indonesia, memang untuk jualan bendera. Semuanya dari Garut, setiap tahun ini sudah jadi aktifitas rutin, kalau saya memang biasa di Malinau jadi tujuan," kata Tatang.

‎Bendera merah-putih berbagai ukuran, umbul-umbul, pita merah putih, gantungan kunci, hingga mainan bertema kemerdekaan tampak hidup di lapak Tatang yang terhembus angin sepoi-sepoi pagi itu, seolah memanggil pengendara yang lewat untuk sekedar melirik, bersyukur jika ada yang membeli.

"Benderanya ukuran paling besar 180x120 cm harga Rp60 ribu per lembar, ada ukuran 150x100 cm, ukuran 120x80 cm, hingga 90x60 cm harga Rp30ribu per lembar," ungkap Tatang dengan tenang, memperkenalkan setiap produknya.

‎Tatang mulai berjualan dari pagi hingga menjelang magrib. Di balik setiap lembar bendera yang dijual, tersimpan cerita perjalanan, kerja keras, dan harapan yang terus berkobar.

‎Bagi Tatang dan rekan-rekannya, menjual bendera menjadi bisnis, sekaligus sebuah bentuk penghormatan pada tanah air dan pengingat bahwa semangat kemerdekaan harus selalu hidup, di mana pun mereka berada.

Rekomendasi Berita