Giram Nda’Liang, Jejak Alam dan Budaya Pedalaman Bahau
- 03 Jul 2025 19:31 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau : Di jantung pedalaman Sungai Bahau, terbentuk sebuah jeram baru yang kini dikenal masyarakat dengan nama Giram Baru Nda’ Liang. Jeram ini tidak hanya menghadirkan tantangan bagi mobilitas warga, tetapi juga menyimpan cerita geologi dan kearifan budaya masyarakat Dayak Kenyah yang telah lama mendiami kawasan ini.
Giram Nda’ Liang, yang secara harfiah berarti “jeram di bawah kuburan”, terbentuk akibat longsoran besar yang terjadi dari kedua lereng pegunungan di sisi kiri dan kanan sungai. Longsoran membawa material batu-batu besar, tanah, dan potongan kayu, menutup aliran sungai dan menciptakan jeram dengan arus deras.
“Batu seukuran mobil terdorong semua ke sungai. Terjadi pendangkalan, aliran jadi deras dan berombak,” jelas Ajang Kahang, tokoh masyarakat Dayak Kenyah yang juga Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Malinau.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jeram atau riam diartikan sebagai aliran air deras menurun, sering ditemukan di sungai-sungai berlereng curam. Namun di Kalimantan, istilah yang lebih akrab digunakan masyarakat lokal adalah “giram”.
Sejumlah lokasi di pedalaman memiliki penamaan serupa, yakni Giram Telasau, Giram Baliu, dan Giram Nda’ Liang. Nama Nda’ Liang sendiri mengacu pada lokasi jeram yang berada di bawah kawasan yang dipercaya sebagai bekas tempat penguburan nenek moyang.
Meski sebagian besar kuburan tua itu sudah tidak utuh lagi, masyarakat setempat masih menjumpai sisa-sisa tempayan atau guci porselen yang dahulu digunakan menyimpan tulang belulang.
“Kalau saya tanya orang-orang tua, katanya memang ada kuburan lama di puncak gunung itu. Sekarang mungkin tinggal jejaknya saja. Tapi karena nama ini sudah turun-temurun, susah untuk diubah,” lanjut Ajang.
Pelafalan nama Giram Nda’ Liang pun berbeda-beda menurut logat sub-etnis Kenyah yang mendiami wilayah sekitar. Masyarakat Bahau Hulu menyebutnya Ngeam Nda’ Liang, Long Pujungan menyebut Nyiam Nta Lizang, sementara di Long Paliran terdengar sebagai Ngiam Nta’ Liang.
Hal ini menunjukkan keragaman linguistik yang melekat erat pada masyarakat adat di wilayah ini. Terbentuknya jeram ini berdampak besar terhadap distribusi barang dan kehidupan warga.
Longboat bermuatan besar tidak lagi bisa melintas bebas. Warga kini harus membongkar muatan menjadi satu hingga satu setengah ton saja agar perahu dapat melintasi jeram yang deras.
Bahkan, untuk melewati Giram Baru Nda’ Liang diperlukan longboat dengan kekuatan 4 hingga 5 mesin. "Sekarang orang harus menurunkan muatan, lalu jalan kaki sekitar 350 meter menembus lereng-lereng bukit untuk bisa melintas," tutur Ajang.
Di balik tantangan tersebut, Giram Nda’ Liang menjadi potret khas interaksi antara alam dan budaya. Sebuah bentang geologi yang sekaligus menjadi artefak hidup dari cara masyarakat Dayak memaknai ruang, sejarah, dan tantangan lingkungan sekitarnya.
“Unik, ya. Inilah kekayaan budaya kita, Dayak,” pungkas Ajang. Bagi masyarakat pedalaman Kalimantan, kata "giram" menyiratkan arus deras, tantangan alam, sekaligus bagian tak terpisahkan dari identitas budaya.