Lelaki Sepuh, Sebelas Anak, dan Secercah Harapan

  • 06 Jun 2025 09:05 WIB
  •  Malinau

KBRN, Malinau : Badarudin (60), warga Malinau Kota, akhirnya mendapat secercah harapan di tengah kepungan masalah hidup yang ia hadapi. Dalam kondisi sakit dan menanggung beban keluarga, ia tak menyangka bahwa kunjungan tak terduga di rumahnya mampu mengubah nasib dalam hitungan jam.

Pertemuan itu terjadi secara kebetulan saat kegiatan bersih-bersih sampah plastik digelar di lingkungan tempat tinggalnya dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tanpa disangka, di tengah keramaian aksi sosial itu, muncul sosok yang merupakan teman di masa sekolah, Bupati Malinau, Wempi W Mawa.

Kondisi Badarudin yang terbaring sakit membuatnya tak bisa lagi menjadi tulang punggung keluarga. Istrinya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, serta sebelas anak yang sebagian besar masih bergantung pada mereka, menambah berat beban hidup yang ditanggung.

Salah satu anaknya bahkan harus putus sekolah sekolah demi membantu mengurus adik-adiknya dan merawat orang tua. Dalam perbincangan hangat antara dua kawan lama yang tak sengaja dipertemukan waktu, mencuatlah kisah hidup Badarudin yang sarat beban.

Jalan sempit menuju rumahnya, drainase yang kerap meluap, dan perjuangan menjaga keluarganya tetap bertahan di tengah segala kekurangan. Wempi W Mawa merespons cepat cerita yang mencuat dalam perbincangan tersebut.

Tanpa menunggu lama, ia mendatangkan petugas medis ke lokasi untuk memeriksa langsung kondisi kesehatan Badarudin. Kepala Dinas Pendidikan pun turut dipanggil ke tempat itu untuk mencarikan solusi pendidikan bagi anaknya yang sempat terhenti sekolah karena harus membantu merawat orang tua dan mengurus adik-adiknya.

Tak berhenti di situ, Wempi juga berkomitmen menyelesaikan persoalan mendasar lainnya. “Drainase di depan rumah beliau akan segera kita tangani, karena posisinya sedikit di dalam. Begitu juga anaknya tadi satu terhenti sekolahnya karena ayahnya sakit, ibunya tidak punya pekerjaan kita cari solusi bersama,” ujar Wempi usai kunjungan.

Bagi Wempi, kondisi ini tidak boleh dibiarkan menjadi pola baru yang menurunkan harapan masa depan generasi muda. “Anak-anak yang mampu bekerja kita dorong agar bisa menopang keluarga. Yang sekolah, tetap harus sekolah. Kita fasilitasi yang putus sekolah ikut program kesetaraan agar dia tetap punya semangat,” ungkapnya.

Pertemuan hari itu bukan sekadar mempertemukan dua kawan lama, tapi juga membuka jalan bagi hadirnya perhatian yang selama ini mungkin terlewat. Bagi Badarudin dan keluarganya, itu cukup untuk menyalakan kembali harapan yang sempat redup.

Rekomendasi Berita