Tren Positif Bertahan, Harga Emas Antam Naik Rp18 Ribu

  • 15 Jun 2026 14:37 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Harga emas Antam mengawali pekan dengan kenaikan Rp18.000 menjadi Rp2.729.000 per gram, sementara harga buyback melonjak Rp46.000 ke level Rp2.500.000 per gram.
  • Investor emas di Malinau menilai emas lebih tepat dipandang sebagai instrumen penyimpan nilai aset untuk melindungi daya beli dari inflasi, bukan semata-mata sarana mengejar keuntungan besar.

RRI.CO.ID, Malinau - Harga emas Antam kembali melanjutkan tren kenaikan pada awal pekan. Berdasarkan pembaruan harga Senin (15/6/2026) pukul 08.56 WIB, harga emas tercatat naik Rp18.000 menjadi Rp2.729.000 per gram.

Sementara itu, harga buyback atau harga pembelian kembali emas Antam juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Buyback tercatat berada di level Rp2.500.000 per gram atau naik Rp46.000 dibanding posisi sebelumnya.

Kenaikan pada awal pekan ini memperpanjang tren positif yang telah berlangsung sejak pekan lalu. Pada 12 Juni 2026, harga emas tercatat naik Rp20.000 per gram, kemudian kembali menguat Rp2.000 pada 13 Juni 2026.

Seorang investor emas di Malinau, Nurul, mengaku tak terlalu terpengaruh pada fluktuasi harga harian emas. Menurutnya, emas lebih tepat dipandang sebagai instrumen penyimpan nilai dibanding sarana mengejar keuntungan besar.

"Saya sebagai orang yang berinvestasi pada emas untuk jangka panjang menikmati setiap prosesnya, termasuk fluktuasi harga harian," ujarnya kepada RRI.

Nurul menilai, imbal hasil emas tidak sebesar instrumen investasi lain sehingga penyebutan emas sebagai investasi perlu dipahami lebih mendalam.

Ia justru melihat emas sebagai bentuk tabungan untuk mempertahankan nilai aset di tengah penurunan daya beli uang.

"Malah menurut saya, emas itu bukan investasi kalau kita lihat lebih jauh. Return-nya tidak sebanyak itu sehingga pantas disebut investasi, tapi lebih pada tabungan untuk mempertahankan aset," katanya.

Ia mencontohkan, seseorang yang membeli emas saat harganya Rp1 juta per gram, lalu menjualnya beberapa tahun kemudian di harga Rp2 juta per gram belum tentu memperoleh keuntungan riil sebagaimana yang dipersepsikan banyak orang.

"Ketika kita membeli di harga satu juta per gram misalnya, lalu kita jual lagi beberapa tahun kemudian di harga dua juta, itu bukan kenaikan harga, tapi penurunan nilai uang. Soalnya ketika kita ingin beli lagi, kita tidak akan mendapatkan harga satu juta," ucapnya.

Nurul menambahkan, emas cenderung mempertahankan nilainya dari waktu ke waktu. Yang berubah, menurutnya, justru nilai mata uang yang terus mengalami penurunan akibat inflasi.

"Jadi sebenarnya bukan harga emas yang naik. Emas tetap segitu-segitu saja nilainya dari zaman Nabi. Tapi nilai uang kita yang terus turun, yang kita sebut inflasi," tuturnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa emas masih diminati masyarakat sebagai instrumen penyimpan kekayaan jangka panjang. Di tengah gejolak ekonomi dan fluktuasi pasar, emas dinilai mampu menjaga nilai aset yang dimiliki.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....