Warga Pedalaman Long Sule Titip Asa, Merdeka dari Keterisolasian Akses
- 17 Agt 2026 20:14 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Masyarakat Desa Long Sule di Kecamatan Kayan Hilir, Malinau menyampaikan harapan pembangunan akses jalan darat pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
- Kepala Desa Long Sule, Jarod Irei menyatakan belum terdapat akses jalan darat yang menghubungkan wilayah mereka dengan pusat pemerintahan dan jalur distribusi.
- Keterbatasan akses transportasi menjadi kendala utama mobilitas warga dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari di Desa Long Sule.
RRI.CO.ID, Malinau - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi masyarakat Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, untuk menyampaikan harapan kepada pemerintah. Di tengah perayaan kemerdekaan, masyarakat Long Sule masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan akses transportasi.
Kepala Desa Long Sule, Jarod Irei mengatakan, hingga kini belum terdapat akses jalan darat yang menghubungkan wilayah mereka dengan pusat pemerintahan maupun jalur distribusi, sehingga mobilitas warga dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masih menghadapi kendala.
"Harapan kami ke depannya akses jalan bisa ada, bisa tembus ke sini. Karena itu satu-satunya harapan kami di Desa Long Sule untuk mendatangkan sembako dan kebutuhan lainnya," ujarnya pada RRI saat dihubungi via telepon usai upacara peringatan HUT Kemerdekaan ke-81 RI, Senin (17/8/2026).
Harapan ini telah disuarakan warga selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, keterbatasan akses juga membuat pelayanan pemerintahan bagi masyarakat Long Sule dan desa tetangga, Long Pipa tidak sepenuhnya dapat dilakukan di ibu kota Kecamatan Kayan Hilir di Data Dian.
Sebagai solusi sementara, pemerintah kecamatan telah memiliki kantor perwakilan di Desa Long Pipa. Keberadaan kantor tersebut memudahkan masyarakat mengurus berbagai keperluan pemerintahan tanpa harus menempuh perjalanan menuju Data Dian.
"Untuk urusan di kecamatan, kami langsung di kantor perwakilan di sini, karena akses kami ke kecamatan memang tidak ada, akses darat tidak ada, penerbangan pun tidak ada. Kalau misalnya kami mau ke ibu kota kecamatan, kami harus putar dulu ke Malinau, baru ada rute lagi ke Data Dian,” katanya.
Desa Long Sule dan Desa Long Pipa memiliki kedekatan secara geografis, dan hanya dipisahkan sungai, di mana pendidikan dan layanan pemerintah berpusat di desa Long Pipa. Jauh dari pusat kota dan tanpa akses darat yang dapat dilewati kendaraan membuat keduanya nyaris terisolasi.
Meski kedua desa kini telah terhubung dua jembatan yang selesai dibangun pada 2025, akses jalan darat menuju wilayah tersebut masih menjadi kebutuhan yang diharapkan masyarakat. Bagi warga, tersedianya jalan darat bukan hanya memperlancar mobilitas, tetapi juga membuka jalur yang lebih mudah untuk mendatangkan sembako dan berbagai kebutuhan lainnya.
Persoalan akses tersebut juga berpengaruh terhadap ketersediaan bahan bakar minyak atau BBM. Pasokan BBM ke wilayah tersebut belum sepenuhnya lancar karena sangat bergantung pada jadwal penerbangan.
Jarod Irei menyebut, dalam kondisi normal, pasokan BBM biasanya masuk sekitar dua kali dalam sebulan. "Normalnya biasanya dua kali sebulan, tetapi jadwalnya tidak tentu juga, karena jadwal pesawat juga terkendala," ujarnya.
Kondisi kelangkaan BBM yang berimbas pada kenaikan harga di tingkat masyarakat kembali dirasakan warga saat ini. Harga per liter yang sebelumnya Rp58.000 menjadi Rp62.000, dengan kuota yang dibatasi maksimal lima liter per kepala keluarga dalam satu trip pengantaran.
Setelah lebih dari sebulan mengalami krisis, pasokan BBM yang terakhir masuk pada pekan sebelumnya belum kembali tersedia. "Yang terakhir masuk hari Selasa kemarin, sampai sekarang belum masuk lagi," katanya.
Masyarakat pun mulai mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya kelangkaan apabila pasokan tidak segera kembali masuk. "Kalau sampai satu bulan tidak masuk, akan terjadi krisis lagi. Itu yang kami khawatirkan, krisis BBM," ujarnya.
Bagi masyarakat Long Sule, persoalan akses dan kebutuhan dasar tersebut menjadi bagian dari makna kemerdekaan yang ingin mereka rasakan. Pembangunan akses jalan tidak hanya diharapkan membuka mobilitas warga, tetapi juga memperlancar distribusi sembako, BBM, kebutuhan pendidikan, pelayanan pemerintahan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Satu-satunya akses ke Long Sule dari Malinau saat ini yakni dengan rute penerbangan perintis yang dijadwalkan melayani penerbangan dua kali setiap pekan. Rute ini mendapat dukungan subsidi SOA Udara 2026 dari Pemkab Malinau.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, Jarod Irei menegaskan masyarakat Long Sule tetap memiliki rasa kebangsaan yang kuat dan tidak menjadikan keterpencilan wilayah sebagai alasan untuk mengurangi kecintaan kepada Indonesia. "Meski secara ekonomi kami masih menghadapi banyak keterbatasan, hati kami tetap untuk NKRI," tegasnya.
Di tengah keterbatasan akses tersebut, warga Desa Long Sule dan Long Pipa memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan mengikuti upacara bersama di lapangan terbuka kantor perwakilan Kecamatan Kayan Hilir di Desa Long Pipa.
Di perayaan kemerdekaan tahun ini, mereka kembali merajut harapan agar pembangunan dan akses dasar semakin terbuka. Dari wilayah pedalaman yang hingga kini belum memiliki akses jalan darat yang layak, warga berharap kemerdekaan dapat semakin dirasakan melalui kemudahan mobilitas, kelancaran kebutuhan pokok, dan kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....