Gaharu Langka, Warga Metut Mulai Tinggalkan Pola Berburu

  • 13 Mei 2026 14:41 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Kelangkaan gaharu liar mendorong perubahan pola ekonomi warga Desa Metut, dari berburu di hutan melalui aktivitas mengusa menuju budidaya gaharu mandiri yang lebih berkelanjutan.
  • Pelatihan teknologi inokulasi dan pendampingan lanjutan membuka peluang peningkatan nilai ekonomi gaharu, sekaligus mengurangi tekanan eksploitasi terhadap hutan alami.

RRI.CO.ID, Malinau - Kelangkaan gaharu liar mendorong masyarakat Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, mulai beralih dari pola berburu di hutan ke budidaya mandiri. Perubahan ini dinilai menjadi langkah penting menjaga sumber penghidupan warga sekaligus mengurangi tekanan terhadap hutan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Metut menggantungkan ekonomi dari aktivitas mengusa atau masuk hutan mencari gaharu. Namun, tingginya perburuan membuat pohon gaharu alami semakin sulit ditemukan.

Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu Desa Metut, Lungo, mengatakan kondisi tersebut membuat pencari gaharu harus masuk lebih dalam ke hutan. Waktu pencarian pun semakin lama dengan hasil yang belum tentu sebanding.

“Sekarang saya tidak perlu mengusa lagi untuk mendapatkan gaharu. Mudah-mudahan kami bisa membuat inokulan sendiri, gaharu yang sudah kami tanam bisa kami suntik mandiri,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan selama ini biaya bekal, alat, dan perjalanan kerap lebih besar dibanding hasil yang dibawa pulang. Tidak jarang masyarakat kembali tanpa mendapatkan gaharu.

Kondisi itu mendorong warga mulai menanam gaharu di kebun sendiri. Lungo mengaku telah membudidayakan ratusan pohon gaharu jenis “lelah” atau Aquilaria malaccensis sejak enam tahun lalu.

Saat ini, pohon gaharu miliknya telah mencapai diameter sekitar 15 sentimeter dan siap diinokulasi. Proses tersebut dibutuhkan untuk merangsang pembentukan resin gaharu bernilai ekonomi tinggi.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Metut, Ibung Kelit, mengatakan sebelumnya masyarakat hanya mengandalkan metode tradisional. Batang pohon dilukai menggunakan parang agar menghasilkan resin secara alami.

“Namun cara tersebut kurang efektif. Selain hasil tidak menentu, kualitas kayu gaharu juga berisiko menurun,” kata Ibung Kelit.

Untuk menjawab tantangan itu, masyarakat dibekali pelatihan teknologi budidaya gaharu. Kegiatan digelar Institut Teknologi Bandung bersama mitra pemerintah dan organisasi pendamping.

Warga mendapat pelatihan pembuatan inokulan berbahan lokal serta teknik injeksi gaharu. Pengetahuan ini diharapkan mempercepat produksi resin tanpa merusak pohon.

Fasilitator desa, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Tiarma Rezeki Manalu, mengatakan pendampingan akan terus dilakukan setelah pelatihan. Langkah ini penting agar warga mampu menerapkan teknik budidaya secara konsisten.

“Pasca pelatihan ini, kami akan melakukan pendampingan intensif ke masyarakat melalui uji coba pembuatan inokulan gaharu, olahan ikan, biochar, dan pupuk organik sebagai tindak lanjut kegiatan,” ucapnya.

Ia menilai budidaya gaharu dapat menjadi alternatif ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pedalaman. Selain menjaga pendapatan warga, pola ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada gaharu liar di kawasan hutan.

Perubahan pola dari berburu ke budidaya mulai memberi harapan baru bagi warga Metut. Di tengah makin sulitnya gaharu alami ditemukan, masyarakat kini melihat peluang ekonomi dari hasil tanam sendiri. (Ading)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....