Penanganan Longsor Apau Ping Segera Dilelang
- 10 Jun 2026 20:39 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Penanganan longsor di Desa Apau Ping segera memasuki tahap lelang. Pemkab Malinau akan memasang bronjong untuk memperkuat tebing Sungai Bahau yang terancam longsor.
- Longsor kini hanya berjarak sekitar tiga hingga empat meter dari rumah warga. Empat rumah terdampak langsung, sementara sepuluh rumah lainnya berpotensi terdampak jika longsor terus meluas.
RRI.CO.ID, Malinau - Penanganan longsor di bantaran Sungai Bahau, Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu segera memasuki tahap lelang. Pemerintah Kabupaten Malinau menargetkan pekerjaan dapat segera dimulai setelah proses pengadaan di Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) selesai.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PUPR-PERKIM) Kabupaten Malinau, Yaftha Lasung mengatakan meski telah direncanakan sejak lama, kondisi medan dan karakteristik lokasi menjadi hambatan yang membuat pemerintah harus mempertimbangkan kembali metode penanganan yang tepat dan aman.
"Memang dari awal kita sudah merencanakan penanganan ini segera. Tetapi ada beberapa kesulitan yang kita hadapi karena lokasi longsor berada di sisi tebing yang cukup tinggi," katanya saat ditemui di Kantor Dinas PUPR-PERKIM Malinau, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, upaya penanganan sementara menggunakan alat berat sempat dipertimbangkan dengan memanfaatkan alat milik masyarakat setempat. Namun langkah tersebut dinilai berisiko karena dapat memicu longsor yang lebih besar apabila dilakukan tanpa perkuatan.
"Kita khawatir kalau alat berat langsung digerakkan tanpa perkuatan, justru longsornya lebih cepat terjadi. Karena rumah masyarakat juga sudah sangat dekat dengan lokasi longsor," ujarnya.
Yaftha menjelaskan metode yang dipilih adalah pemasangan bronjong sebagai struktur penguat tebing. Metode ini dinilai paling memungkinkan diterapkan mengingat kondisi lokasi yang berada di tepian sungai dengan tebing yang cukup tinggi.
Ia mengatakan, proses tender saat ini telah berada di BPBJ setelah dilakukan penyesuaian sejumlah dokumen, khususnya pada komponen biaya angkut material menuju wilayah pedalaman Bahau Hulu yang terdampak kenaikan harga BBM.
"Dokumen tender sudah kami sesuaikan kembali. Yang berpengaruh kemarin terutama biaya angkut dari Malinau menuju Apau Ping karena ada kenaikan harga BBM," ucapnya.
Pekerjaan tersebut direncanakan menggunakan sekitar 752 unit bronjong dengan target penyelesaian maksimal pada 30 November 2026. Distribusi material menuju lokasi akan dilakukan melalui kombinasi jalur darat dan sungai yang memerlukan beberapa kali pemindahan muatan.
Sebelumnya, RRI melaporkan longsor di bantaran Sungai Bahau tersebut kembali terjadi pada akhir Mei 2026, sejak kejadian awal di Maret 2025, seiring tingginya curah hujan dan banjir. Pergerakan tanah yang terus terjadi menyebabkan bantaran sungai terkikis dan mendekati kawasan permukiman warga.
Kepala Desa Apau Ping, Yakub Jalung mengatakan, insiden tersebut menyebabkan jarak antara tebing longsor dan rumah warga semakin dekat, dan meningkatkan risiko bagi belasan rumah di lokasi tersebut.
"Sekarang longsor semakin dekat ke rumah warga karena kejadian yang terbaru akhir Mei 2026. Jaraknya kurang lebih tinggal tiga sampai empat meter dari rumah yang paling dekat,” kata Yakub.
Ia menyebut terdapat empat rumah yang terdampak langsung karena berada paling dekat dengan lokasi longsor. Selain itu, sekitar delapan hingga sepuluh rumah lainnya berpotensi terdampak apabila longsor kembali meluas ke bagian hilir yang mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan dan pergeseran tanah.
Menurut Yakub, kondisi tersebut membuat warga sekitar hidup dalam kekhawatiran, terutama saat hujan deras dan banjir terjadi. Beberapa warga bahkan memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat atau tetangga ketika cuaca memburuk.
"Harapan masyarakat tentu supaya longsor ini segera ditangani. Kami berharap ada pembangunan penahan longsor agar rumah-rumah warga yang berada dekat lokasi bisa merasa aman," ujarnya. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....