Mengenal Berebu Pagun Safar, Tolak Bala Masyarakat Tidung
- 12 Agt 2026 14:40 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Berebu Pagun Safar adalah tradisi doa selamat dan tolak bala yang dipegang teguh oleh masyarakat Tidung di Malinau.
- Tradisi ini diselenggarakan setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah sebagai bagian dari rutinitas keagamaan tahunan.
- Pemerintah Kecamatan Malinau Kota mendukung pelestarian budaya lokal dengan menyelenggarakan acara ini di Sentra UMKM Desa Seluwing.
RRI.CO.ID, Malinau - Berebu Pagun Safar merupakan tradisi doa selamat dan tolak bala masyarakat Tidung. Tradisi ini digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Sebagai agenda rutin tahunan, Pemerintah Kecamatan Malinau Kota menggelar tradisi tersebut di Sentra UMKM Desa Seluwing, Kecamatan Malinau Kota, Rabu (12/8/2026).
Camat Malinau Kota, Muhammad Yusuf mengatakan, tradisi ini konsisten dilaksanakan setiap tahun pada Rabu terakhir bulan Safar mengikuti penanggalan kalender Hijriah yang telah dipegang masyarakat Tidung secara turun-temurun.
“Kegiatan Berebu Pagun Safar ini dilaksanakan secara rutin oleh Kecamatan Malinau Kota setiap tahun, di hari Rabu terakhir bulan Safar. Kita laksanakan kembali tahun ini, tahun 1448 Hijriah,” ujarnya.
Prosesi diawali dengan kedatangan warga yang berkumpul di tempat terbuka dan luas. Warga mengenakan pakaian bebas dan pantas bernuansa Islami, sembari membawa kuliner atau makanan dari rumah masing-masing.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dan arahan dari pejabat, para sesepuh, serta tokoh masyarakat kepada warga yang hadir. Setelah itu, masuk pada acara inti berupa pembacaan doa selamat dan tolak bala yang dipimpin para alim ulama bersama seluruh warga.
Prosesi selanjutnya adalah makan bersama yang menurut Yusuf menjadi salah satu bagian unik dalam tradisi ini. “Ini merupakan sebuah prosesi yang unik, karena makanan yang ada tidak disiapkan secara khusus oleh panitia, melainkan kuliner yang dibawa oleh warga dari rumahnya masing-masing,” jelasnya.
Warga kemudian saling berbagi makanan yang dibawa kepada peserta lainnya. Tradisi berbagi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempererat hubungan dan menciptakan keharmonisan di antara masyarakat yang hadir.
Rangkaian acara ditutup dengan prosesi Mandi Salamun yang dipimpin para alim ulama dan disertai doa. Setiap warga yang mengikuti prosesi ini terlebih dahulu dipasangkan ikat kepala dari daun kelapa yang bertuliskan doa keselamatan.
Yusuf menyebut, jumlah peserta Mandi Salamun yang dimandikan secara bergantian biasanya berjumlah ganjil, mulai dari satu, tiga, lima, hingga tujuh orang. Prosesi tersebut menjadi penutup seluruh rangkaian kegiatan Berebu Pagun Safar.
Yusuf menjelaskan, terdapat sejumlah hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan tradisi tersebut. Pertama, menjadi wadah silaturahmi bagi warga antarkeluarga, antar-RT, hingga antardesa untuk meningkatkan kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan, dan persatuan.
Kedua, sebagai umat beragama, kegiatan ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketiga, tradisi tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berbagi rezeki dan makanan kepada sesama.
Keempat, doa keselamatan yang dipanjatkan bersama menjadi ikhtiar masyarakat agar wilayah dan keluarga senantiasa terhindar dari bencana serta musibah.
Kelima, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya masyarakat Tidung dan Bulungan yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh para leluhur.
“Harapannya generasi muda mengenal tradisi, budaya, sekaligus nilai keagamaan yang telah dijalankan sejak dahulu di Kecamatan Malinau Kota,” pungkasnya.
Berebu Pagun Safar kini telah masuk dalam Kalender of Events Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau dan telah diusulkan menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Malinau. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....