Industri Nonmigas Tumbuh 5,32 Persen, Lampaui Ekonomi Nasional

  • 01 Sep 2026 07:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026.
  • Industri pengolahan nonmigas menjadi sumber pertumbuhan terbesar ekonomi nasional dengan kontribusi 0,97 poin persentase.
  • Kemenperin menargetkan utilitas industri pengolahan nonmigas meningkat dari 64,8 persen menjadi minimal 70 persen.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Agus menyampaikan capaian tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Ia juga menyebut industri pengolahan nonmigas menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi 0,97 poin persentase.

“Bahwa pertumbuhan atau tumbuhnya 5,32 persen tahunan ini lebih tinggi. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen,” ujar Agus dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Pertumbuhan manufaktur yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional terakhir terjadi 14 tahun lalu. Ekspor industri pengolahan nonmigas juga berkontribusi hampir 82 persen terhadap total ekspor nasional.

“Dan selain data atau di luar 2025, pertumbuhan manufaktur yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi ini terakhir terjadi 14 tahun yang lalu. Dan IPNM juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi perekonomian nasional,” kata Agus.

Kinerja manufaktur turut tercermin dari nilai tambah yang dihasilkan industri. Berdasarkan data World Bank yang dirilis pada 2025, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dolar AS.

“Di mana kinerja positif industri manufaktur yang tercermin dalam Manufacturing Value Added yang ini dirilis oleh World Bank pada tahun 2025. Nilai tambah manufaktur Indonesia mencatat atau tercapai 275,61 miliar dolar Amerika,” ucap Agus.

Nilai tambah manufaktur tersebut meningkat dari 265 miliar dolar AS pada 2024. Indonesia juga naik ke peringkat ke-12 dunia pada 2025 dari posisi ke-13 pada tahun sebelumnya.

“Dan Indonesia pada tahun 2025 naik ke posisi 12 dibandingkan pada tahun sebelumnya 2024. Untuk negara-negara di ASEAN tentu kita menjadi peringkat nomor satu tertinggi dalam penciptaan nilai tambah di manufaktur,” ujar Agus.

Di tengah capaian tersebut, Agus menekankan pentingnya memperkuat pasar domestik untuk menyerap produk manufaktur nasional. Sebanyak 78,4 persen output manufaktur terserap di dalam negeri, sedangkan 21,6 persen dikirim ke negara lain sebagai komoditas ekspor.

“Capaian positif industri atau manufaktur ini perlu diiringi dengan penguatan atau selalu diiringi dengan penguatan pasar domestik. Karena saat ini output dari produk-produk manufaktur kita 78,4 persen itu diserap di dalam pasar dalam negeri,” kata Agus.

Dari sisi kapasitas, utilitas industri pengolahan nonmigas masih berada pada angka 64,8 persen. Agus menyebut tingkat utilitas tersebut perlu ditingkatkan hingga kisaran minimal 70 persen atau lebih.

“Utilitas IPNM masih pada angka 64,8 persen dan ini masih angka yang perlu kita tingkatkan. Kita perlu tingkatkan hingga kisaran minimal 70 persen atau lebih,” ujar Agus.

Untuk mengamankan pasar dalam negeri, Kementerian Perindustrian menerapkan sejumlah instrumen kebijakan. Kebijakan tersebut meliputi SNI wajib, TKDN dalam belanja produk dalam negeri, standar industri hijau, dan sertifikasi halal.

“Kemenperin terus-menerus memperkuat pengamanan pasar dalam negeri melalui kebijakan-kebijakan. Seperti SNI wajib, penerapan TKDN dalam belanja produk dalam negeri, penerapan standar industri hijau serta sertifikasi halal,” kata Agus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....