Kemenperin Bangun IPAL Ramah Lingkungan untuk IKM Sasirangan di Tapin
- 27 Agt 2026 07:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemenperin membangun IPAL berkapasitas 3.500 liter untuk IKM Sasirangan Timbaan, Kabupaten Tapin.
- Teknologi IPAL mampu menurunkan berbagai parameter pencemar hingga lebih dari 90 persen.
- Sekitar 90 persen air hasil pengolahan dapat digunakan kembali untuk kebutuhan operasional IKM.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL bagi IKM Sentra Sasirangan Timbaan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Pembangunan IPAL dilakukan melalui Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi melalui Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri atau DAPATI.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemanfaatan teknologi di sektor IKM diarahkan untuk meningkatkan produktivitas. Teknologi tersebut juga ditujukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ia menegaskan, transformasi industri nasional harus berjalan seiring dengan penerapan prinsip industri hijau. “Upaya ini menjadi bagian penting mewujudkan industri nasional yang berdaya saing, inklusif,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Program DAPATI sendiri dilaksanakan Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri atau BSKJI untuk mempercepat adopsi teknologi di sektor IKM. Kepala BSKJI, Emmy Suryandari mengatakan, program tersebut tidak hanya menghadirkan teknologi aplikatif, tetapi juga meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
Sementara itu, Kepala BSPJI Banjarbaru Oktaviyanto Jimat Wibowo menjelaskan, IPAL dibangun karena limbah pewarnaan sasirangan dibuang ke sumur resapan. Kondisi tersebut berpotensi mencemari lingkungan apabila limbah tidak ditangani melalui proses pengolahan.
Karena itu, pembangunan IPAL diharapkan dapat mendorong pengelolaan limbah cair sasirangan secara lebih aman dan ramah lingkungan. IPAL yang dibangun memiliki kapasitas sekitar 3.500 liter dan terdiri atas tujuh bak pengolahan.
Instalasi tersebut menggunakan teknologi elektrokoagulasi dan media penyaringan berupa ijuk, arang, pecahan genteng, sabut kelapa, serta purun. Berdasarkan pengujian laboratorium, teknologi tersebut mampu menurunkan kadar hidrogen sulfida hingga 98,75 persen serta minyak dan lemak 97,33 persen.
Penurunan juga terjadi pada kadar fenol sebesar 91,66 persen, BOD 81,77 persen, COD 80,44 persen, dan TSS 40,74 persen. Hampir seluruh parameter telah memenuhi baku mutu, meski kadar minyak dan lemak masih memerlukan optimalisasi waktu tinggal limbah.
Selain mengurangi potensi pencemaran, IPAL memungkinkan sekitar 90 persen air hasil pengolahan digunakan kembali. Tujuannya untuk membersihkan peralatan produksi dan area kerja.
IKM Sentra Sasirangan Timbaan beranggotakan sembilan pengrajin dengan sekitar 100 tenaga kerja. Setiap proses pewarnaan menghasilkan sekitar 250 liter limbah cair, yang sebelumnya hanya ditampung dalam sumur resapan tanpa pengolahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....