Kemenperin Integrasikan IKM Singkong ke Rantai Pasok Industri
- 17 Jul 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian mengintegrasikan IKM olahan singkong ke dalam rantai pasok industri skala besar melalui Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2/2026 tentang Program Vendor Development.
- Subsektor makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen pada Triwulan I 2026 dan menyumbang PDB nasional terbesar sebesar 7,31 persen dibandingkan subsektor industri pengolahan nonmigas lainnya.
- Provinsi Lampung memproduksi 7,9 juta ton singkong pada 2024 (setara 51 persen dari produksi nasional) dengan Kabupaten Lampung Timur sebagai penopang utama industri pengolahan singkong nasional.
- Pendampingan teknis kepada IKM dilakukan selama tiga hari secara luring dan dilanjutkan dua fase pendampingan secara daring dengan fokus pada standar keamanan pangan dan pengembangan produk berdaya saing.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian mengintegrasikan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) olahan singkong ke dalam rantai pasok industri skala besar. Langkah tersebut sejalan dengan Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2/2026 tentang Program Vendor Development.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyebut industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen pada Triwulan I 2026. Subsektor tersebut juga menyumbang PDB nasional terbesar, yakni 7,31 persen, dibandingkan subsektor industri pengolahan nonmigas lainnya.
"Selain tumbuh kuat, subsektor ini juga memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional. Dibandingkan subsektor industri pengolahan nonmigas lainnya, yaitu sebesar 7,31 persen," ujar Faisol di Lampung Timur, Kamis, 16 Juli 2026.
Di tengah tantangan ketahanan pangan, Faisol mengatakan Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan melalui hilirisasi sumber daya alam. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan agar Indonesia mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi.
"Karena itu, sejalan dengan arahan Bapak Presiden mengenai percepatan industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam. Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan agar Indonesia mampu mengolah sumber daya alamnya menjadi produk bernilai tambah tinggi," kata Faisol.
Faisol mengatakan Provinsi Lampung strategis mengembangkan industri singkong nasional dengan produksi 7,9 juta ton pada 2024, setara 51 persen. Ia menambahkan Kabupaten Lampung Timur menjadi penopang utama industri pengolahan singkong nasional didukung petani, gapoktan, dan IKM.
"Kabupaten Lampung Timur sendiri adalah salah satu penopang utama keberlangsungan industri pengolahan singkong nasional. Dengan ekosistem yang telah berkembang, mulai dari petani, Gabungan Kelompok Tani, hingga pelaku IKM olahan singkong," ucap Faisol.
Faisol berharap pelaku IKM di Lampung Timur meningkatkan pengetahuan teknologi, keamanan pangan, dan pengembangan produk singkong berdaya saing. Menurutnya, daya saing IKM ditentukan kemampuan menghasilkan produk berkualitas serta membangun kemitraan dengan industri yang lebih besar.
"Oleh karena itu, pembinaan yang dilakukan Kemenperin tidak berhenti pada peningkatan kompetensi teknis. Tetapi juga diarahkan untuk mempertemukan IKM dengan calon mitra industri sehingga tercipta hubungan usaha yang saling menguntungkan dan berkelanjutan," ujar Faisol.
Pembinaan tersebut, lanjut Faisol, sejalan dengan Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Program Vendor Development. Program tersebut mendorong terciptanya kemitraan IKM dengan industri besar melalui peningkatan kapasitas, kualitas produk, serta integrasi rantai pasok.
Dirjen IKMA Kemenperin Reni Yanita mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman, wawasan, dan pendampingan teknis kepada pelaku IKM. Pendampingan dilakukan sesuai standar keamanan pangan untuk mendukung hilirisasi industri berbasis komoditas singkong di Provinsi Lampung.
"Tahapan selanjutnya adalah pendampingan teknis yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta. Bagaimana proses produksi yang dijalankan memenuhi persyaratan keamanan pangan," ujar Reni.
Selanjutnya, Reni menjelaskan pendampingan teknis dilaksanakan secara luring selama tiga hari dan dilanjutkan secara daring dua fase pendampingan. Ia berharap upaya tersebut menciptakan industri pengolahan singkong lokal yang mampu bersaing di pasar maupun rantai pasok industri.
"Semoga upaya ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan industri pengolahan singkong lokal. Yang mampu bersaing baik di pasar maupun rantai pasok industri," kata Reni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....