Mei 2026, Neraca Perdagangan Indonesia Mulai Alami Defisit 1,61 Miliar Dolar AS

  • 01 Jul 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Neraca perdagangan Indonesia bulan Mei 2026, mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar
  • Neraca perdagangan defisit setelah membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut
  • Namun secara kumulatif dari Januari-Mei 2926, neraca perdagangan masih membukukan surplus meski menipis menjadi USD4,3 miliar

RRI.CO.ID, Jakarta- Setelah membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026. Namun secara kumulatif, neraca perdagangan masih membukukan surplus yang semakin menipis.

"Neraca perdagangan bulan Mei 2026, mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam keterangan pers di gedung BPS, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026. Defisit disebabkan nilai ekspor yang lebih rendah dibandingkan nilai ekspornya.

Nilai ekspor bulan Mei tercatat sebesar USD23,20 miliar. Sedangkan nilai impornya sebesar USD24,80 miliar. Impor didominasi oleh impor migas yang meningkat hingga 27,89 persen.

Namun secara kumulatif dari Januari-Mei 2026, nilai ekspor masih lebih besar dibandingkan nilai impornya. "Sehingga secara kumulatif, neraca perdagangan masih membukukan surplus sebesar USD4,3 miliar," ucap Ateng.

Menurut Ateng, surplus sepanjang Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD16,31 miliar. Sementara itu komoditas migas defisit sebesar USD12,28 miliar.

Berdasarkan data BPS, surplus neraca perdagangan pada Januari-Mei 2026 menipis dibandingkan periode sebelumnya. Pada Januari-April 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD5,64 miliar.

Sementara itu, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Mei 2026 mencapai USD115,36 miliar. Nilainya naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas yang mencapai 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar. Surplus perdagangan nonmigas pada Januari-Mei 2026 ditopang oleh lima komoditas utama.

"Yang utama adalah komoditas lemak dan minyak hewani/nabati nilainya sebesar USD13,92 miliar," ucap Ateng. Komoditas lainnya adalah bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya serta alas kaki," ujar Ateng.

Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 44,20 persen terhadap total ekspor nonmigas periode Januari-Mei 2026.

Sementara itu, nilai impor kumulatif periode Januari-Mei 2026 tercatat sebesar USD111,33 miliar. Nilai impornya naik 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor kumulatif didominasi oleh impor nonmigas sebesar USD93,88 miliar atau naik 13,16 persen. Sementara itu, impor migas tumbuh 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar.

BPS mencatat terjadi peningkatan nilai impor nonmigas untuk periode Januari-Mei 2026 baik pada barang modal. Termasuk bahan baku/penolong dan barang konsumsi.

Bahan baku/penolong menjadi penyumbang impor nonmigas terbesar dengan nilai impor mencapai USD79,40 miliar, naik 14,41 persen. Diikuti impor barang modal sebesar USD22,12 miliar (naik 17,53 persen), dan impor barang konsumsi sebesar USD9,81 miliar (naik 17,05 persen).

Sepanjang periode Januari-Mei 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia. Nilai impor dari Tiongkok sebesar USD39,27 miliar (41,83 persen).

Negara asal impor lainnya adalah diikuti Jepang dengan nilai impor sebesar USD5,17 miliar (5,51 persen). Serta impor dari Australia sebesar USD5,02 miliar (5,35 persen).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....