Nilai Tukar Rupiah Makin Tertekan ke Level Rp17.947 pada Pembukaan Perdagangan

  • 01 Jul 2026 10:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp17.947 per dolar AS, Rabu 1 Juli 2026, turun 0,22 persen dari penutupan sehari sebelumnya.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga pembukaan perdagangan Rabu 1 Juli 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,22 persen atau 40 poin menjadi Rp17.947 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, rupiah juga melemah saat penutupan perdagangan sebesar 0,31 persen ke posisi Rp17.907 per dolar AS. “Nilai tukar masih melemah seiring menguatnya indeks dolar AS ke level 101,3,” kata analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.

Menurut dia, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang rilis angka inflasi Juni 2026. Pasar juga berekspektasi Bank Indonesia (BI) akan tetap mempertahankan kebijakan yang hawkish (ketat).

Jessica menambahkan kondisi global dibayangi risiko inflasi yang tinggi dan ketidakpastian global. Hal ini membuat bank sentral AS, The Fed, kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Akibatnya, premi risiko Indonesia tetap pada level yang relatif tinggi dalam jangka pendek,” ucapnya. Jessica memperkirakan inflasi umum Indonesia pada Juni 2026 naik menjadi 3,2 persen secara tahunan.

Laju inflasi dipengaruhi kenaikan harga energi, misalnya Pertamax yang naik 0,3 persen menjadi Rp16.250 per liter. Demikian pula dengan kenaikan harga minyak global dan dampak awal El Niño terhadap pasokan pangan domestik.

Kenaikan harga-harga juga mendongkrak biaya produksi ke tingkat konsumen. Sehingga, harga sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat ikut terangkat.

“Namun, tekanan inflasi diperkirakan sebagian akan diimbangi penurunan harga sejumlah komoditas pangan utama,” katanya. Di antaranya daging ayam, telur, dan cabai rawit.

Jessica menambahkan masih ada ruang bagi BI untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. “Ini disebabkan oleh volatilitas rupiah dan inflasi yang meningkat,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....