BI Perkirakan Penjualan Eceran pada April 2026 Turun

  • 13 Mei 2026 07:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran pada April 2026 turun sebesar minus 10 persen secara bulanan.
  • Penurunan itu dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran pada April 2026 turun sebesar minus 10 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sedangkan indeks penjualan riil (IPR) pada bulan yang sama diprakirakan mencapai 231,0.

Ini berarti turun dibandingkan IPR pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 256,7. Hasil survei penjualan eceran tersebut disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Selasa 12 Mei 2026.

“Penurunan itu dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah,” ujarnya. Meski begitu, Denny menyebutkan secara tahunan penjualan eceran pada April 2026 tetap terjaga.

“IPR pada April 2026 ditopang oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan pada sejumlah kelompok komoditas,” ucapnya. Misalnya kelompok suku cadang dan Aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.

Sementara itu, kinerja IPR Maret 2026 ditopang pertumbuhan penjualan secara tahunan pada sejumlah komoditas. Misalnya kelompok suku cadang dan aksesori, barang budaya dan rekreasi, serta makanan, minuman, dan tembakau.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh sebesar 10,3 persen. Ini berarti lebih tinggi dibandingkan sebulan sebelumnya yang sebesar 4,1 persen.

Peningkatan penjualan eceran pada Maret 2026 ditopang kinerja penjualan seluruh kelompok. Terutama barang budaya dan rekreasi; makanan, minuman, dan tembakau; bahan bakar kendaraan bermotor; serta subkelompok sandang.

Dari sisi harga, tekanan inflasi pada tiga dan enam bulan mendatang yaitu Juni dan September 2026 diprakirakan meningkat. Ini tecermin dari indeks ekspektasi harga umum (IEH) pada dua bulan tersebut, masing-masing sebesar 175,6 dan 163,2.

Ini berarti lebih dibandingkan IEH Mei dan Agustus 2026 yang masing-masing tercatat sebesar 157,4 dan 157,2. “Kenaikan IEH Juni dan September 2026 itu didorong oleh kenaikan harga bahan baku,” kata Denny.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....