Pacu Industri Hijau, Menperin Perkuat Infrastruktur Pengolahan Air

  • 12 Mei 2026 17:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perindustrian memprioritaskan penguatan infrastruktur pengolahan air baku dan limbah di kawasan industri guna mendukung program dekarbonisasi dan pengembangan industri hijau.
  • Pemerintah menjalin kerja sama teknologi dengan Qiaoyin City Management untuk menerapkan sistem DIAB yang diklaim mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen di lima kawasan industri percontohan.
  • Proyek ini bertujuan memperkuat daya saing 176 kawasan industri di Indonesia melalui efisiensi lahan dan biaya serta mendorong transfer teknologi ramah lingkungan bagi sumber daya manusia nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan penguatan infrastruktur pengolahan air baku dan air limbah pada kawasan industri. Upaya tersebut sejalan dengan program dekarbonisasi industri dan pengembangan industri hijau.

Agus mengatakan penguatan infrastruktur pengolahan air mendukung pengembangan kawasan industri. Menurutnya, kawasan industri berperan dalam mendukung investasi dan penyerapan tenaga kerja.

“Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,” ujar Agus di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Agus menyebut proyek tersebut mendukung pengembangan industri hijau. Pemerintah juga mencari model pengelolaan air yang efektif dan mudah diterapkan.

“Akan ada lima kawasan industri yang menjadi pilot project dalam kerja sama ini. Namun kita tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang baik, tetapi juga mencari model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan,” kata Agus.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menjalin kerja sama dengan Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia. Nota kesepahaman tersebut mencakup proyek percontohan teknologi pengolahan air baku dan air limbah terpadu.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi pengolahan air baku dan air limbah pada kawasan industri. Teknologi tersebut diharapkan mendukung pengelolaan air industri.

Hingga tahun 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia. Total luas kawasan tersebut mencapai 98.291,68 hektare.

Nilai realisasi investasi pada kawasan industri mencapai Rp6.744,58 triliun. Pertumbuhan kawasan industri turut meningkatkan kebutuhan sistem pengelolaan air dan limbah.

Qiaoyin memperkenalkan teknologi Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB) pada sistem pengolahan limbah industri. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung efisiensi biaya dan lahan.

“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen,” ujar Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd. Wan Yiming.

Wan Yiming mengatakan fasilitas pengolahan dapat beroperasi lebih cepat melalui penggunaan sistem prefabrikasi. Proyek percontohan tersebut direncanakan diterapkan pada lima kawasan industri.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, teknologi pengolahan air dapat mendukung pengelolaan kawasan industri.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (Dirjen KPAII) Tri Supondy mengatakan Kemenperin terus mendukung penerapan teknologi ramah lingkungan pada kawasan industri. Ia berharap kerja sama tersebut mendorong investasi dan transfer teknologi.

Kerja sama tersebut diharapkan mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional. Tri mengatakan kolaborasi itu juga berkaitan dengan pengembangan industri berbasis inovasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....