Pertemuan G20 dan BRICS Soroti Pertumbuhan Ekonomi dan Ketidakseimbangan Global
- 18 Apr 2026 06:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- G20 dan BRICS sepakat memperkuat kerja sama internasional Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi ketidakseimbangan global
- Di forum G20, Perry menekankan pentingnya memperhatikan neraca finansial (financial account) dalam menilai ketidakseimbangan global
- Ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini jauh lebih berisiko ke stabilitas perekonomian global
RRI.CO.ID, Jakarta - Negara-negara G20 dan BRICS sepakat untuk terus memperkuat kerja sama internasional. Kerja sama tersebut bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi ketidakseimbangan global.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di bawah presidensi Amerika Serikat. Serta Pertemuan Kedua Deputi BRICS di bawah Presidensi India 2026.
Dalam pertemuan tersebut Delegasi RI dipimpin oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. Keduanya sekaligus mengikuti pertemuan IMF-Bank Dunia Spring Meetings 2026 di Washington D.C, Amerika Serikat.
Di forum G20, Perry menekankan pentingnya memperhatikan neraca finansial (financial account) dalam menilai ketidakseimbangan global. Karena selama ini fokus perhatian hanya pada neraca transaksi berjalan (current account).
"Ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini jauh lebih berisiko ke stabilitas perekonomian global," kata Perry. Ia mengungkapkan alasan untuk memperhatikan neraca finansial.
Menurutnya, diperlukan tiga respons kebijakan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi ketidakseimbangan global. Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
"Kedua, mendorong reformasi struktural. Ketiga, menerapkan kebijakan perdagangan yang terbuka," ujar Perry, dikutip pada Jumat, 17 April 2026.
Sementara itu, dalam pertemuan BRICS, negara-negara anggota menyepakati penguatan kerja sama "South-South" untuk menghadapi berbagai tantangan. Terutama meningkatnya fragmentasi geopolitik, keterbatasan pembiayaan, serta kerentanan makrofinansial yang memengaruhi negara-negara berkembang.
Penguatan kerja sama 'South-South' antara lain dilakukan melalui pembentukan Task Force on Growth and Development (TFGD). "Ke depan, bank sentral negara BRICS sepakat memperkuat kerja sama di are strategis," ucap Perry.
Area strategis tersebut meliputi sistem pembayaran, artificial intelligence, keamanan siber dan teknologi finansial. "Serta membentuk jaring pengaman keuangan internasional guna mendukung pertumbuhan," ujar Perry.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....