Data BI: Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat Jadi Rp7.506,92 Triliun

  • 15 Apr 2026 19:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Februari 2026 sebesar USD437,9 miliar. Jumlah itu setara Rp7.506,92 triliun
  • Peningkatan ULN disebabkan oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring aliran masuk modal asing ke instrumen moneter. Yakni instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)
  • Hingga Februari 2026, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Februari 2026 sebesar USD437,9 miliar. Jumlah itu setara Rp7.506,92 triliun (kurs hari ini Rp17.143 per dolar AS)

Posisi ULN pada Februari 2026 meningkat, dibandingkan dengan posisi ULN bulan Januari yang sebesar USD434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari tumbuh 2,5 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan Januari yang tumbuh 1,7 persen.

"Peningkatan ULN disebabkan oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring aliran masuk modal asing ke instrumen moneter. Yakni instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Rabu, 15 April 2026.

Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan pada Februari 2026. Dari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar USD215,9 miliar, tumbuh 5,5 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ULN Pemerintah bulan Februari lebih rendah dibandingkan bulan Januari 2026 sebesar 5,6 persen secara tahunan. Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.

ULN pemerintah, yang terbesar digunakan untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22 persen dari total ULN pemerintah). Selain itu, untuk membiayai Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib, Jasa Pendidikan, Konstruksi serta Transportasi dan Pergudangan.

"Sedangkan peningkatan ULN BI didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen (investor asing) terhadap instrumen moneter yang diterbitkan BI. Kepemilikan asing meningkat sejalan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global," ujar Ramdan Denny.

Sedangkan ULN swasta pada Februari 2026 sebesar USD193,7 miliar, secara tahunan turun 0,7 persen. Perkembangan ULN swasta dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan.

Utang swasta dari kelompok lembaga keuangan turun 2,8 persen secara tahunan. Sedangkan utang swasta dari perusahaan bukan lembaga keuangan turun 0,2 persen secara tahunan.

ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas. Termasuk dari sektor Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa seluruhnya mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.

BI menilai struktur ULN Indonesia masih sehat, dan pengelolaannya menerapkan prinsip kehati-hatian. Hingga Februari 2026, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen.

ULN Indonesia juga masih dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen dari total ULN. Peran ULN akan dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....