Harga Referensi CPO April Naik, Kemendag Soroti Geopolitik Global

  • 02 Apr 2026 13:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Harga referensi CPO periode April 2026 mengalami kenaikan seiring dinamika pasar global.
  • Faktor geopolitik global turut memengaruhi pergerakan harga komoditas minyak sawit.
  • Pemerintah terus memantau dan menyesuaikan kebijakan ekspor untuk menjaga stabilitas pasar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tommy Andana mengumumkan kenaikan harga referensi (HR) minyak kelapa sawit (CPO). Kementerian Perdagangan menetapkan harga rujukan komoditas tersebut menjadi 989,63 dolar Amerika Serikat per metrik ton untuk periode April.

Tommy menjelaskan bahwa nilai tersebut meningkat sebesar 5,41 persen jika dibandingkan dengan harga patokan pada bulan Maret. Ia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama melonjaknya harga minyak mentah di pasar global.

“Saat ini, HR CPO meningkat dibandingkan dengan periode Maret 2026. Peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan permintaan yang tidak diikuti dengan peningkatan suplai akibat penurunan produksi, serta peningkatan harga minyak mentah akibat situasi geopolitik di Timur Tengah,” kata Tommy di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Tommy mengatakan bahwa perhitungan harga referensi ini bersumber dari rata-rata bursa sawit Indonesia dan bursa Malaysia. Ia menyebutkan ketimpangan antara permintaan pasar yang tinggi dengan stok produksi yang menurun turut mengerek harga jual.

Tommy merinci besaran Bea Keluar untuk minyak sawit mentah periode ini ditetapkan sebesar 148 dolar per metrik ton. Ia memastikan aturan tersebut merujuk pada ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang berlaku mulai tanggal satu April ini.

“Sehingga, harga referensi bersumber dari Bursa CPO di Indonesia dan Bursa CPO di Malaysia. Sesuai dengan perhitungan tersebut, HR CPO ditetapkan sebesar USD 989,63/MT,” ujar Tommy.

Tommy mengungkapkan harga referensi biji kakao justru mengalami penurunan drastis sebesar 21,17 persen pada periode April 2026. Ia mencatat harga patokan ekspor (HPE) komoditas cokelat tersebut melandai menjadi 2.886 dolar Amerika Serikat per metrik ton.

Tommy menilai melimpahnya suplai dari negara produsen utama menjadi alasan utama turunnya harga biji kakao di pasar internasional. Ia menyebut kondisi panen yang membaik di beberapa negara tidak diimbangi dengan kenaikan permintaan dari para pembeli.

“Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi peningkatan suplai seiring membaiknya produksi di negara produsen utama. Kondisi ini tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan,” ucap Tommy.

Tommy menyebutkan harga patokan ekspor untuk produk kulit tidak mengalami perubahan nilai dibandingkan dengan bulan Maret lalu. Ia mencatat komoditas getah pinus justru mengalami kenaikan tipis sebesar 1,44 persen menjadi 916 dolar per metrik ton.

Tommy mengatakan fluktuasi harga juga terjadi pada beberapa jenis produk kayu hutan alam maupun hasil hutan tanaman. Ia menjelaskan kenaikan harga terjadi pada jenis kayu olahan meranti sementara harga kayu merbau tercatat mengalami penurunan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....