OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Dampak Perang AS-Iran

  • 30 Mar 2026 10:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026-2027.
  • OECD merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dari sebesar 5 persen menjadi 4,8 persen.
  • Penurunan target pertumbuhan ekonomi Indonesia ini disebabkan kenaikan harga energi dan tensi geopolitik yang meningkat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026-2027. Revisi tersebut dimuat pada laporan OECD Economic Outlook Testing Resilience yang dirilis Maret 2026.

OECD semula memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5 persen. Namun, perkiraan itu direvisi hingga turun menjadi 4,8 persen.

Sedangkan pada 2027, pertumbuhan ekonomi Indonesia semula diproyeksikan mencapai 5,1 persen. Pada laporan terbarunya, OECD merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan menjadi 5 persen.

Revisi tersebut lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi pada APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Menurut OECD, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu mempertimbangkan peningkatan risiko global.

“Hal ini didorong kenaikan harga energi dan tensi geopolitik yang meningkat” kata Tim Analis Mirae Asset Sekuritas. OECD menambahkan tekanan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia juga disebabkan inflasi yang diperkirakan mencapai 3,4 persen.

Menurut OECD, inflasi menyebabkan daya beli masyarakat tertekan, meskipun pemerintah telah menggulirkan berbagai stimulus fiskal. Hal ini berhasil mendorong tingkat konsumsi, tetapi tidak mampu mengimbangi laju inflasi.

OECD mencermati konflik Timur Tengah menyebabkan banyak infrastruktur energi yang rusak dan berpotensi menurunkan produksi minyak. Ini ditambah penutupan Selat Hormuz yang menganggu kelancaraan logistik energi.

Akibatnya, pasokan energi menipis dan harga melambung. Hal ini mendorong inflasi lebih tinggi yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) juga merilis hasil penelitiannya soal dampak kenaikan harga energi pada pertumbuhan ekonomi. Khususnya di Negara-negara kawasan Asia Pasifik.

“Pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang diperkirakan turun hingga 1,3 persen pada 2026-2027,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park. Sedangkan inflasi akan naik 3,2 persen jika disrupsi energi berlangsung lebih dari setahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....