Gen Z dan Milenial, Punya Cara Beda Hadapi Tekanan Pengeluaran saat Lebaran
- 19 Mar 2026 16:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amar Bank rilis hasil survei perbedaan strategi Gen Z dan Milenial menghadapi tekanan pengeluaran saat Ramadan dan Idul Fitri
- Mayoritas Gen Z menggunakan dana darurat untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, sedangkan Milenial menggunakan dana gabungan berupa dana darurat dan pinjaman
- Tunjangan Hari Raya (THR) memberikan rasa aman sekaligus mempengaruhi pengambilan keputusan terkait keuangan
RRI.CO.ID, Jakarta - Gen Z dan Gen Milenial ternyata punya strategi beda menghadapi tekanan keuangan menjelang lebaran. Hal ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Amar Bank terhadap lebih dari 1.600 responden.
Rentang usia responden antara 20-55 tahun. Mereka tinggal Jabodetabek, Bandung, Surabaya dan Makasar.
“Hasil survei menunjukkan 97 persen responden mengaku pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan. Sedangkan 16,9 persen responden merasa kondisi keuangannya tetap nyaman sepanjang bulan itu,” kata Direktur Retail Banking Amar Bank, Abraham Lumban Batu, dikutip Kamis, 19 Maret 2026.
Tekanan pengeluaran disebabkan karena belanja rutin dan semi-rutin yang menumpuk pada periode yang sama. Pengeluaran terbesar adalah belanja kebutuhan rumah tangga (86 persen).
Kemudian belanja simbolik seperti belanja baju lebaran, buka puasa bersama dan hampers (67,6 persen). Serta pembelian tiket mudik (26,4 persen)
Dari pola belanja inilah, menurut Abraham, terlihat perbedaan antara Gen Z dan Milenial. Gen Z , menurutnya, cenderung lebih defensive dalam menghadapi pengeluaran tak terduga.
“Sekitar 46 persen dari mereka memilih memakai dana darurat, sedangkan 38,3 persen menggabungkannya dengan pinjaman. Gen Z juga lebih banyak merasakan tekanan yang makin kuat mendekati akhir Ramadan,” ucapnya.
Dari total 765 responden Gen Z, sekitar 42 persen merasa kondisi keuangannya makin ketat di penghujung bulan. Pola itu menunjukkan bahwa prioritas utama Gen Z adalah menjaga stabilitas dan bertahan sampai fase paling berat terlewati.
Sedangan Gen Milenial lebih taktis dalam menyusun bantalan keuangan, sekitar 42 persen menggabungkan dana darurat dan pinjaman. Hanya 38,8 persen responden dari Gen Milenial yang hanya memakai dana darurat.
“Milenial juga lebih sering menggambarkan kondisi keuangannya naik-turun dari minggu ke minggu. Dari 461 responden Milenial, sekitar 36 persen mengalami cash flow yang tidak menentu,” kata Abraham.
Menurutnya, hal itu menunjukkan generasi Milenial cenderung lebih siap memakai kombinasi strategi agar kebutuhan tetap berjalan. Kelompok ini tidak menunggu sampai situasi sepenuhnya aman.
Dari hasil survei juga menunjukkan, THR punya makna yang lebih besar dari sekadar tambahan uang. “Sebanyak 72,8 responden mengatakan THR memengaruhi atau setidaknya menjadi backup dalam keputusan pinjaman,” ujar Abraham.
THR dianggap sebagai dana untuk kebutuhan keluarga dan keagamaan (65,8 persen), bukan semata uang ekstra untuk gaya hidup. Secara psikologis ada rasa lebih aman dalam mengambil keputusan keuangan ketika ada arus kas masuk yang sudah terlihat.
Selepas Ramadan, hasil survei menunjukkan, 46,5 persen responden menyebut kondisi finansialnya kembali normal. Sedangkan 37,7 persenyang merasa harus mengencangkan ikat pinggang lebih lama.
Melihat fenomena ini, Amar Bank menyebut Ramadan sering kali menjadi periode ketika kebutuhan rumah tangga meningkat dalam waktu yang singkat. Sementara arus kas belum tentu bergerak dengan ritme yang sama.
“Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya akses dana, tetapi juga pendampingan. Sehingga mereka bisa tetap memprioritaskan kebutuhan utama, memahami kapasitas keuangan mereka, dan mengambil keputusan pembiayaan secara bertanggung jawab,” kata Abraham menutup penjelasannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....