Jejak Sejarah Gerbang Udara Makassar dari Masa ke Masa
- 17 Sep 2026 11:06 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR – Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki jejak sejarah panjang dalam menghubungkan wilayah Nusantara. Bandar udara yang kini menjadi hub utama transportasi udara di kawasan Timur Indonesia ini berawal dari sebuah lapangan terbang militer yang dibangun pada era kolonial Belanda.
Di Kutip dari Arsip Sejarah Penerbangan Sipil Kementerian Perhubungan RI, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, dan PT Angkasa Pura Indonesia Pembangunan awal lapangan terbang ini dimulai pada tahun 1935 oleh pemerintah kolonial Belanda. Lokasi awal penyeberangan udara ini berada di wilayah Kadieng dengan nama Lapangan Terbang Kadieng. Pembangunan tersebut ditujukan untuk mendukung konektivitas rupa-rupa armada penerbangan militer dan sipil milik pemerintah Hindia Belanda di wilayah selatan Sulawesi.
Pada tanggal 27 September 1937, penerbangan komersial pertama berhasil mendarat di lapangan terbang ini. Pesawat milik maskapai Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) membuka rute penerbangan perintis yang menghubungkan Makassar dengan Batavia (Jakarta) serta wilayah pengumpan lainnya. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah dimulainya layanan transportasi udara reguler di pulau Sulawesi.
Ketika Perang Dunia II berkecamuk dan Jepang menguasai wilayah Hindia Belanda pada tahun 1942, keberadaan Lapangan Terbang Kadieng mengambil peran strategis. Pemerintah pendudukan Jepang memperluas serta memperkuat infrastruktur landasan pacu untuk mendukung aktivitas armada militer penerbangan laut mereka di kawasan Pasifik Selatan.
Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia dan pengakuan kedaulatan, pengoperasian lapangan terbang ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Nama fasilitas penerbangan tersebut kemudian diubah menjadi Pelabuhan Udara Mandai pada tahun 1950-an, merujuk pada nama kecamatan tempat berdirinya bandara tersebut.
Seiring perkembangan lalu lintas udara yang kian pesat, pemerintah Indonesia melakukan penggantian nama secara resmi menjadi Bandara Sultan Hasanuddin pada tahun 1980. Nama tersebut diambil dari sosok pahlawan nasional asal Raja Gowa XVI yang gigih melawan penjajahan Belanda, sebagai bentuk penghormatan atas keberanian beliau yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur.
Kini, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura Indonesia telah bertransformasi menjadi salah satu bandara termodern di Indonesia. Dengan terminal baru berarsitektur modern yang memadukan motif khas Kapal Phinisi, bandara ini melayani jutaan penumpang setiap tahunnya dan menjadi penggerak utama roda ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....