AI Dinilai Mempercepat Penulisan Referensi Pariwisata Indonesia
- 28 Mei 2026 13:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Artificial Intelligence AI, tidak serta-merta dipandang negatif, melainkan sebagai alat kolaborasi yang revolusioner jika diarahkan dengan tepat. Demikian perbincangan bersama Instruktur Penulis Buku, Ismail dan Dirk Sandarupa, Dosen dan Praktisi Pariwisata Sulsel di RRI.
Instruktur Penulis Buku, Ismail dalam perbincangan ini mengatakan bahwa Ketersediaan referensi tertulis mengenai kepariwisataan di Indonesia dinilai masih sangat minim dan memprihatinkan. Sebagian besar literatur pariwisata yang beredar justru lahir dari buah pena akademisi dan penulis asing, bukan dari masyarakat lokal yang bersinggungan langsung dengan destinasi tersebut. Fakta ini memicu keresahan mengenai pentingnya mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk beralih peran dari sekadar pencari informasi menjadi penyedia informasi yang valid melalui tulisan terstruktur.
Dirk Sandarupa, Dosen dan Praktisi Pariwisata Sulsel menambahkan bahwa Rendahnya minat baca dan menulis di kalangan mahasiswa saat ini menjadi tantangan besar dalam dunia akademik. Fenomena ketergantungan terhadap teknologi sering kali membuat mahasiswa memilih jalan pintas dalam menyelesaikan tugas ataupun menjawab persoalan di kelas. Isu mengenai kepekaan literasi generasi masa kini menjadi sorotan tajam karena berdampak langsung pada kemampuan mereka menghasilkan karya tulis yang mendalam dan orisinal.
Dirk Sandarupa mengungkapkan kegelisahannya mengenai ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi kecerdasan buatan tanpa dibekali fondasi membaca yang kuat. "Ketika mereka di kelas juga, kalau mereka selalu begini, Jadi kalau ada saya buang pertanyaan atau dosen-dosen lain, langsung cari di ChatGPT, Nah, ini menjadi dilema buat mereka," ujarnya. Hal ini melatarbelakangi pentingnya pengawasan dan kolaborasi ide agar teknologi tidak mematikan daya kritis mahasiswa.
Kendati memicu dilema, kehadiran Artificial Intelligence (AI) tidak serta-merta dipandang negatif, melainkan sebagai alat kolaborasi yang revolusioner jika diarahkan dengan tepat. Melalui instruksi atau prompt yang detail, AI mampu mempercepat proses penyusunan draf tulisan secara signifikan. Transformasi digital ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengompilasi data kepariwisataan terkini dengan lebih efisien tanpa kehilangan esensi bobot ilmiahnya.
Dirk Sandarupa, Dosen dan Praktisi Pariwisata Sulsel mengatakan AI mampu mempercepat proses penyusunan draf tulisan secara signifikan. Transformasi digital ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengompilasi data kepariwisataan terkini dengan lebih efisien tanpa kehilangan esensi bobot ilmiahnya.
Sementara itu Pakar literasi dan penerbitan, Ismail, dalam perbincangan di program obsesi Pro 1 RRI Makassar menjelaskan bagaimana peran AI telah menggeser pola menulis tradisional dan mempercepat alur kerja kreatif. Pemberian perintah ke AI pada prinsipnya adalah menulis lebih cepat yang dapat membantu penulis, hanya saja yang perlu dilakukan penulis adalah membaca ulang. Proses penyuntingan dan pengecekan kembali memegang peranan krusial untuk memastikan kualitas tulisan tetap terjaga.
"Dengan memberikan perintah ke AI, artifisial atau kecerdasan buatan, itu pada prinsipnya menulisnya itu cepat. Yang lama membaca ulangnya, proofreading-nya, jadi bahwa proses penyuntingan dan pengecekan kembali memegang peranan krusial untuk memastikan kualitas tulisan tetap terjaga,” kata Ismail kepada RRI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....