Pariwisata, Ruang Dialog yang Menyatukan Keberagaman

  • 01 Nov 2025 18:10 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Pariwisata kini tidak lagi dipandang semata sebagai sektor ekonomi, melainkan juga ruang sosial yang mampu membangun dialog lintas budaya dan agama. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Nasrullah, SST.Par., M.Sc., Dosen Program Studi D3 Bina Wisata Unifa Makassar, dalam program NUSANTARA SIANG - OBROLAN KHUSUS "Pariwisata; Ruang Dialog dan Persatuan Lintas Suku dan Agama". Jumat, (31/10/2025).

Menurutnya, aktivitas wisata pada hakikatnya adalah proses perjumpaan antarmanusia dari latar belakang berbeda, yang membuka peluang terciptanya toleransi dan saling pengertian. Nasrullah menegaskan, pariwisata menjadi sarana “memaksa orang untuk bertemu” dan keluar dari zona nyamannya.

Di ruang-ruang wisata seperti lobi hotel, pelataran adat, atau meja makan, wisatawan dari berbagai daerah saling berinteraksi tanpa sekat politik dan ekonomi. “Mereka berbicara tentang hal-hal ringan seperti makanan, tarian, dan pemandangan, tapi dari situlah prasangka sosial mencair dan dialog tercipta,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep "wisata dialog” sebagai pendekatan sadar dari pelaku industri pariwisata. Bukan sekadar kunjungan, melainkan pengalaman yang dirancang agar wisatawan memahami nilai sosial dan spiritual masyarakat setempat. “Misalnya, peserta tur diajak berdialog dan ngopi bersama pemuka agama lokal agar mereka tidak hanya membawa foto, tapi juga makna,” tambahnya.

Contoh penerapan

pariwisata dialog dapat ditemukan di Toraja, di mana wisatawan diterima dalam ritual Rambu Solo’ dan berbaur dengan keluarga penyelenggara. Proses ini menciptakan ruang saling hormat antarbudaya, bahkan antaragama. “Ritual menjadi ruang terbuka bagi siapa saja, dan di situlah nilai kemanusiaan dan persaudaraan tumbuh,” jelas Nasrullah.

Ia menutup dengan menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kearifan lokal. Pemerintah, industri, dan masyarakat disebut telah bersinergi melalui regulasi zonasi dan pembatasan wilayah sakral. “Indonesia memiliki kekayaan budaya dan spiritualitas luar biasa. Pariwisata adalah laboratorium perdamaian yang alami untuk bangsa kita,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....