Intan Lestarikan Budaya Toraja Melalui Fesyen Modern

  • 30 Apr 2025 11:29 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Di tengah hiruk-pikuk kota Makassar, seorang perempuan bernama Irtani Irbar Zoleng membuktikan bahwa warisan budaya tak harus terkubur zaman. Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup.

Pada akhir 2018, Intan masih sibuk menyelesaikan studi magisternya di Universitas Hasanuddin (Unhas). Saat teman-temannya berlomba melamar kerja, ia justru mendapat tantangan dari orang tuanya untuk buka usaha sendiri, jangan jadi karyawan. "Kamu punya talenta apa?" Pertanyaan sang ayah yang membuatnya bingung.

Namun, perempuan kelahiran Makale, Tana Toraja ini segera menyadari kecintaannya pada dunia fashion, terutama dalam memadukan warna dan gaya. "Awalnya saya hanya iseng, tapi ternyata passion ini bisa jadi bisnis," kata Intan dengan senang menceritakan perjalanan usahanya saat ditemui di rumahnya, di Kompleks Purnawirawan TNI AURI Pai 1 Sudiang, Kota Makassar.

Di awal 2019, ia memutuskan mengambil kursus menjahit selama tiga bulan dan magang untuk mengasah keterampilannya. Dari sana, tekadnya semakin bulat: bisnis fashion harus punya ciri khas agar bisa bersaing di Makassar. Jawaban atas pencarian identitas bisnisnya datang saat Intan mengunjungi Toraja. Di sana, kelahiran tahun 1987 ini terpesona oleh keindahan tenun Sadan, kain tradisional bernilai sejarah tinggi.

Namun, ia menyadari para pengrajin yg mungkin kesulitan memasarkan karya mereka. "Saya ingin membawa tenun Toraja ke kota, tapi dengan desain yang lebih modern," tuturnya.

Naval Modesty Tailor pun lahir dengan fokus pada bahan tenun sa'dan, kain Sarita, yaitu kain khas Toraja yang motifnya sarat makna budaya. Untuk memastikan produksi berkelanjutan, Intan menggandeng pengrajin lokal: dua penenun, dua penyuplai kain Sarita, dan satu pengrajin manik-manik. "Kami rutin ke Toraja untuk memantau proses produksi dan memesan bahan sesuai desain," jelasnya.

Agar tenun Toraja diminati generasi muda, lulusan 2006 Teknik Perkapalan Unhas ini melakukan terobosan desain. Kain tradisional itu diubah menjadi dress kasual, outer, atau kemeja yang cocok dipakai ke kampus atau acara santai. "Kami ingin pecah stigma bahwa tenun hanya untuk acara resmi. Dengan sentuhan modern, anak muda bisa bangga memakainya sehari-hari," ujarnya.

Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup. (rri.co.id/Aan Ariska)

Strategi ini berhasil. Pelanggan dari kalangan muda mulai berdatangan, sementara masyarakat Toraja di Makassar merasa terbantu. "Mereka tak perlu pulang ke kampung hanya untuk pesan baju adat. Kami bisa membuatkannya di sini," kata Intan. Produk seperti seragam pengantin dan pakaian resmi tetap laris, tetapi desain kasual kini menjadi andalan baru.

Intan memulai usahanya dengan modal seadanya. Di Mei 2019, ia membeli mesin jahit bekas seharga Rp750.000 dari OLX, lalu menyisihkan dana sedikit demi sedikit untuk bahan baku. Prinsipnya jelas, mandiri tanpa bergantung pada orang tua. "Modal awal Rp2,5 juta dipakai beli mesin obras bekas dan perlengkapan lain. Sisanya, kami kembangkan perlahan," ujarnya.

Bersama adik Irwan Rara' Zoleng dan suamina, Victor Tangkedatu, Intan membangun Naval Modesty Tailor dari nol. Namun, ujian terbesar datang di awal 2020: pandemi COVID-19. Saat permintaan jahitan menurun drastis, Intan tak menyerah. Ia beralih memproduksi masker kain dari sisa bahan yang menumpuk di rumah.

Dengan kreativitasnya, Intan mengubah krisis menjadi peluang. Masker kain berlogo yang ia produksi bersama tim justru menarik minat perusahaan dan institusi. Pesanan pertama datang dari perusahaan perkapalan di Tarakan (150 masker), disusul universitas di Palopo yang memesan 1.250 masker untuk wisuda. "Kami bahkan pakai sisa kain percetakan yang tak terpakai. Semua dioptimalkan," ujarnya.

Langkah ini tak hanya menyelamatkan bisnis, tetapi juga membuka pasar baru. "Bagi saya, Naval Modesty Tailor bukan sekadar bisnis. Ini cara melestarikan warisan leluhur sekaligus memberdayakan pengrajin Toraja," jelas Intan.

Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup. (rri.co.id/Aan Ariska)

Buka Lapangan Pekerjaan

Di tengah gelombang perubahan pasca-pandemi, Naval Modesty Tailor tak hanya bertahan, tetapi berkembang pesat dengan strategi cerdas yang memadukan digitalisasi, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi desain. Intan, sang pemilik, membuktikan bahwa bisnis berbasis budaya bisa tetap relevan—bahkan bersinar—di era modern.

Selama pandemi, Naval Modesty Tailor mengandalkan live streaming di media sosial untuk bertahan. "Penjualan langsung via Instagram dan Facebook ternyata efektif tingkatkan omset hingga 40%," ujar Intan. Namun, saat aktivitas normal kembali, ia tak berhenti di situ. Fokus dialihkan ke pembukaan butik fisik yang lebih representatif. "Toko fisik penting untuk membangun kepercayaan pelanggan dan memamerkan produk secara langsung," tambahnya.

Tak hanya itu, produk-produknya lolos kurasi ketat Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah),tingkat Propinsi Sulsel membuka pintu ke lokasi strategis seperti Bandara Sultan Hasanuddin dan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. "Stok di bandara harus diisi ulang tiap minggu karena permintaan tinggi," cerita Intan bangga.

Intan tak hanya membangun bisnis, tapi juga menciptakan lapangan kerja bagi tetangga yang terdampak pandemi. Beberapa warga sekitar dilibatkan sebagai tenaga harian untuk memotong kain atau menyetrika masker. "Prinsip saya, usaha harus memberi manfaat bagi orang sekitar," tegasnya.

Naval Modesty Tailor juga membuka kursus menjahit gratis. Peserta yang telah magang dua bulan diberi dua pilihan: bergabung sebagai karyawan atau membuka usaha mandiri. Saat ini, enam karyawan aktif bekerja, termasuk tiga penjahit yang bekerja remote. "Ini cara kami menebar manfaat sekaligus menjaga regenerasi pengrajin," ujarnya.

Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup. (rri.co.id/Aan Ariska)

Produk Naval Modesty Tailor kini menghiasi galeri strategis seperti Galeri Andalan di Bandara Sultan Hasanuddin dan lobi Kantor Gubernur Sulsel. Kolaborasi dengan bank dan instansi pemerintah juga memperluas pasar. Prestasi puncaknya diraih pada 2024: dan Mendapatkan Penghargaan Shiddhakarya, Produktivitas tahun 2024 dengan Kualifikasi "Unggul" dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sulsel, yang mengantarkan mereka ke kompetisi nasional Paramakarya 2025 di Jakarta.

"Penghargaan ini bukan akhir, tapi awal untuk membawa tenun Toraja ke tingkat nasional," kata Intan bersemangat.

Intan memastikan komunikasi transparan dengan pelanggan. Misalnya, saat menerima pesanan baju anak, tim akan berdiskusi detail tentang desain, bahan, dan harga sebelum memproses. "Prinsip kami: no surprise. Pelanggan harus puas dari awal hingga akhir," ujarnya.

Pendekatan ini berhasil menjangkau berbagai kalangan, dari generasi muda yang gemar belanja online hingga orang tua yang lebih nyaman bertransaksi langsung. Meski sukses, Intan tak berhenti belajar. Ia berencana menguasai desain digital untuk mempercepat proses kreatif. "Sketsa manual masih kami andalkan, tapi teknologi perlu diadopsi agar tak tertinggal," akunya.

Baginya, Naval Modesty Tailor bukan sekadar bisnis. "Ini adalah tanggung jawab melestarikan budaya Toraja sambil menciptakan lapangan kerja. Setiap jahitan adalah cerita tentang warisan dan masa depan," jelasnya.

BRI Memperkuat Fondasi Bisnis

Sebagai bagian dari program binaan BRI, Intan tidak hanya mendapatkan pelatihan bisnis konvensional, tetapi juga akses ke pengetahuan terkini seperti digital marketing. "Dulu, saya hanya mengandalkan penjualan offline. Setelah pelatihan dari BRI, saya bisa menjangkau pasar nasional melalui media sosial dan e-commerce," ujarnya.

Yang istimewa, BRI tak sekadar menjadikan Intan sebagai peserta pelatihan, tapi juga memfasilitasinya sebagai mentor. Ia pernah diundang BRI untuk mengajar peserta UMKM lain cara membuat tas khas Toraja. "Ini pengalaman membanggakan. Saya bisa berbagi teknik menjahit tradisional sekaligus mempromosikan budaya Toraja," tambahnya.

Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup. (Dok Pribadi untuk RRI)

BRI juga menyediakan platform eksklusif untuk memamerkan produk Naval Modesty Taylor, seperti pameran UMKM dan webinar kolaborasi. Melalui kesempatan ini, Intan tak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga memperluas jejaring dengan pelanggan dan sesama pengusaha.

Selain pelatihan teknis, BRI fokus membenahi manajemen keuangan UMKM binaannya. Di Rumah BUMN BRI, Intan dan pelaku usaha lain diajarkan cara mencatat cash flow, memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, serta mengontrol pengeluaran. "Sebelumnya, uang hasil penjualan sering tercampur dengan kebutuhan rumah tangga. Kini, BRI membantu saya membuat rekening khusus toko. Transaksi masuk-keluar tercatat rapi, sehingga mudah melacak omset dan laba bersih," cerita Intan.

Rekening terpisah ini juga memudahkan akses pembiayaan. Dengan laporan keuangan transparan, Intan lebih percaya diri mengajukan pinjaman modal kerja ke BRI saat membutuhkan ekspansi bisnis.

Dukungan BRI telah mengubah Naval Modesty Taylor dari usaha rumahan menjadi bisnis yang memiliki sistem terstruktur. Intan kini memiliki tim produksi kecil, website resmi, dan pemasaran digital yang menjangkau hingga luar Sulawesi.

"Bagi saya, ini bukan sekadar bisnis. Setiap pakaian yang terjual adalah cara melestarikan warisan leluhur. BRI memahami visi ini dan membantu mewujudkannya," jelas Intan.

Lewat Naval Modesty Tailor, Intan -sapaan akrabnya menghadirkan tenun Toraja dalam balutan gaya modern, sebuah perpaduan yang tak hanya memikat pasar, tetapi juga menjaga kearifan lokal tetap hidup. (rri.co.id/Aan Ariska)

Project Leader Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, menyampaikan bahwa Rumah BUMN telah menjadi wadah pengembangan UMKM melalui program unggulan berbasis empat pilar transformasi yang disebut 4 Go. Pertama, Go Modern, di mana UMKM binaan Rumah BUMN Makassar telah terdaftar resmi sebagai Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang dikelola secara profesional.

Tidak hanya itu, program Go Digital hadir untuk mendorong pelaku UMKM mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam memperluas promosi dan interaksi dengan konsumen. Langkah ini diperkuat dengan Go Online, yakni pendampingan intensif dalam memanfaatkan marketplace atau platform e-commerce guna meningkatkan penetrasi pasar digital.

Puncak dari transformasi ini adalah Go Global, di mana UMKM dibekali kemampuan untuk siap ekspor, membuka peluang menggapai pasar internasional. Ayu juga menekankan bahwa Rumah BUMN tidak hanya fokus pada pelaku usaha yang sudah berdiri, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum memiliki produk atau usaha namun ingin belajar kewirausahaan.

Melalui kolaborasi sebagai mitra binaan, mereka bisa mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta akses jaringan bisnis untuk memulai langkah pertama sebagai pengusaha. "Rumah BUMN hadir sebagai mitra holistik, baik untuk UMKM yang ingin berkembang maupun calon wirausaha yang ingin merintis impiannya," jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....