Refleksi Spiritual Antrean Panjang BBM di SPBU

  • 14 Sep 2026 09:55 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Fenomena panjangnya antrean kendaraan di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akhir-akhir ini tidak hanya sekadar memicu persoalan mobilitas dan transportasi masyarakat. Lebih dari itu, situasi tersebut menarik perhatian berbagai kalangan untuk melihat realitas sosial ini dari sudut pandang yang lebih mendalam, termasuk dari aspek spiritual dan moral keagamaan.

Tokoh agama sekaligus akademisi hukum Islam, Ustadz Dr. H. Muhammad Rusli, S.H.I., M.H., memberikan tanggapan khusus saat dimintai pandangannya oleh Radio Republik Indonesia (RRI) melalui sambungan pesan WhatsApp, Senin, 14 September 2026. Dalam pandangannya, antrean panjang di SPBU menyimpan banyak pelajaran berharga serta renungan penting bagi kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial dan hamba Tuhan.

Ia mengamati bagaimana fenomena antrean BBM yang viral di berbagai titik menunjukkan satu kenyataan bahwa masyarakat rela meluangkan waktu berjam-jam di bawah terik panas matahari hingga larut malam. Para pengemudi dan pengendara tersebut tetap bertahan di tempatnya demi memastikan kendaraannya mendapatkan pasokan bahan bakar yang cukup untuk melanjutkan perjalanan aktivitas mereka.

Tokoh agama sekaligus akademisi hukum Islam, Ustadz Dr. H. Muhammad Rusli, S.H.I., M.H., (Songko Tinggia)

Menanggapi realitas tersebut, Dr. Rusli mengajak masyarakat untuk melakukan instrospeksi diri secara jujur dan mengambil hikmah mendalam dari peristiwa kesabaran di SPBU. Menurutnya, kesediaan manusia menunggu dalam waktu lama demi urusan duniawi kontras dengan sikap yang kerap ditunjukkan saat dihadapkan pada urusan ibadah kepada Sang Pencipta.

"Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri dan mengambil hikmah, bahwa untuk mengisi bahan bakar kendaraan kita sanggup menunggu berjam-jam, meninggalkan semua aktivitas, tapi mengapa untuk mengisi bahan bakar jiwa kita justru sering tidak sabar?" ujar Ustadz Dr. H. Muhammad Rusli, S.H.I., M.H., saat dikonfirmasi RRI melalui WhatsApp, Senin, 14 September 2026.

Lebih lanjut, ia menyoroti ketakutan psikologis yang dialami masyarakat ketika indikator bahan bakar kendaraannya mulai menipis dan mendekati batas kosong. Ketakutan tersebut membuat orang rela berkorban apa saja agar kendaraannya tidak mogok di tengah jalan, sementara kelalaian dalam menjalankan kewajiban agama sering kali diabaikan begitu saja tanpa rasa bersalah.

Kondisi tersebut, menurut akademisi hukum Islam ini, mencerminkan adanya ketimpangan prioritas dalam orientasi hidup manusia modern yang sering kali lebih mencemaskan urusan material dibandingkan keselamatan rohani. Padahal, kebutuhan spiritual dan amal ibadah memiliki kedudukan yang jauh lebih krusial bagi keselamatan manusia dalam jangka panjang di hadapan Allah SWT.

"Kita takut karena kendaraan kita berhenti, tetapi ketika meninggalkan salat mengapa kita tidak takut bahwa hati kita berhenti mengingat Allah? Untuk dunia tentu kita sangat rela menunggu, tapi untuk akhirat kadang lima menit saja kita terasa berat," tegasnya menambahkan.

Ia lantas menguraikan analogi yang sangat relevan antara fungsi bahan bakar bagi kendaraan bermotor dengan fungsi ibadah bagi kehidupan manusia di dunia. Kendaraan mutlak memerlukan energi dari BBM agar bisa berjalan lancar sampai ke tempat tujuan fisik, sementara manusia secara esensial membutuhkan ketundukan dan ibadah agar selamat sampai pada tujuan akhir perjalanan hidupnya, yakni menghadap kepada Allah SWT.

Pesan moral yang ingin disampaikan melalui renungan antrean BBM ini adalah agar masyarakat tidak terjebak dalam kecemasan yang berlebihan terhadap urusan duniawi semata sambil melupakan persiapan akhirat. Kesabaran yang diuji saat mengantre di SPBU hendaknya menjadi cerminan sekaligus latihan mental untuk memiliki ketabahan yang sama dalam menegakkan aturan agama dan ibadah demi kebahagiaan hidup yang kekal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....