Kisah Nabi Yunus Selamat dari Perut Ikan Paus di 10 Muharram

  • 21 Jun 2026 17:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makasar - Kisah para nabi selalu menyimpan pelajaran moral dan spiritual yang mendalam bagi umat manusia. Salah satu kisah yang paling masyhur dan sering menjadi inspirasi di kala menghadapi kesulitan hidup adalah kisah Nabi Yunus Alaihis Salam (A.S.). Beliau diuji oleh Allah SWT dengan tertelan ke dalam perut ikan paus raksasa setelah meninggalkan kaumnya yang keras kepala. Di dalam kegelapan yang berlapis-lapis itulah, sebuah doa agung dipanjatkan.

Dilansir dari NU Online dijelaskan bahwa, tanggal 10 Muharram (dikenal sebagai hari Asyura) memang diyakini sebagai hari bersejarah di mana Nabi Yunus AS dimuntahkan dan diselamatkan dari perut ikan, kisah Nabi Yunus A.S. diutus kepada kaum Ninawa untuk mengajak mereka menyembah Allah SWT. Namun, karena penolakan yang terus-menerus dan rasa putus asa yang mendera, beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan kota tersebut sebelum ada perintah resmi dari Allah. Kepergiannya membawa beliau ke sebuah kapal yang kemudian mengalami kelebihan muatan di tengah lautan yang diamuk badai dahsyat.

Dalam Alqur’an surat Al - Qalam ayat 48 , Allah SWT Berfirman Faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takun kaṣāḥibil-ḥūt, iż nādā wa huwa makẓūm yang artinya "Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus) ketika dia berdoa dengan hati sedih."(QS: Qolam : 48).

Untuk menyelamatkan kapal, nahkoda memutuskan untuk melakukan pengundian guna menentukan siapa yang harus dikorbankan ke laut. Setelah diundi sebanyak tiga kali, nama Nabi Yunus selalu keluar. Dengan penuh ketawakalan, beliau akhirnya melompat ke dalam laut yang bergolak, di mana seekor ikan paus raksasa telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk menelannya bulat-bulat tanpa mematahkan tulangnya.

Di dalam perut ikan yang gelap gulita, sunyi, dan pengap, Nabi Yunus A.S. menyadari kekhilafannya karena telah meninggalkan kaumnya tanpa izin Allah. Beliau tidak berputus asa dari rahmat-Nya, melainkan langsung bersujud dan memanjatkan doa pengakuan dosa yang sangat tulus. Doa inilah yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 87."Laa ilaaha illa anta subhaanaka innee kuntu minaz-zaalimiin." Yang Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

Doa yang singkat namun padat ini mengandung tiga unsur utama yang sangat kuat: pengakuan tauhid (mengesakan Allah), pensucian nama Allah dari segala kekurangan, dan pengakuan jujur atas kesalahan diri sendiri. Nabi Yunus tidak meminta langsung untuk dikeluarkan, melainkan menunjukkan kerendahan hati dan penyesalan yang mendalam di hadapan Sang Pencipta.

Mendengar ketulusan doa tersebut, Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Yunus. Ikan paus itu pun diperintahkan untuk memuntahkan beliau ke tepian pantai yang gersang dalam keadaan sakit dan lemah. Di sana, Allah menumbuhkan pohon sejenis labu untuk melindungi dan memberi makan Nabi Yunus hingga kesehatannya pulih sepenuhnya.

Umat Islam di seluruh dunia hingga kini terus mengamalkan doa ini sebagai "Doa Dzun Nuun" (sebutan untuk Nabi Yunus yang berarti pemilik ikan). Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi menegaskan bahwa tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa ini untuk urusan apa saja, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya.

Kisah penyelamatan Nabi Yunus dari perut ikan paus ini menjadi pengingat abadi bahwa tidak ada situasi yang terlalu gelap atau masalah yang terlalu besar bagi pertolongan Allah. Ketika manusia merasa tersudut di titik terendah dalam hidupnya, pengakuan dosa dan penyerahan diri secara total seperti yang dicontohkan Nabi Yunus adalah kunci utama pembuka jalan keluar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....