Kredibilitas Panitia Lemah, Kericuhan Tarkam Mudah Terjadi

  • 24 Agt 2026 14:56 WIB
  •  Makassar
Poin Utama
  • Stigma dan Kredibilitas Penyelenggara
  • Lemahnya Pengawasan dan Regulasi
  • Pentingnya Ketegasan dan Aturan Jelas

RRI.CO.ID, Makassar – Kericuhan dalam pertandingan sepak bola antarkampung atau tarkam dinilai tidak lepas dari rendahnya kredibilitas penyelenggara pertandingan. Kondisi tersebut membuat keputusan wasit mudah dipersoalkan hingga memicu pelampiasan emosi dari peserta pertandingan.

Pengamat sepak bola Kusnéni diwaancara RRI Makassar Senin pagi 24Agustus 2026 mengatakan persoalan juga muncul karena adanya stigma negatif masyarakat terhadap wasit. Menurutnya, kepercayaan yang rendah membuat pemain atau tim mudah mencurigai keputusan wasit sebagai keberpihakan.

“Memang di tengah masyarakat itu ada stigma yang kurang baik tentang wasit. Ada semacam trust yang sangat rendah terhadap wasit, lalu ada kecurigaan bahwa wasit ini berpihak,” kata Kusnéni.

Kusnéni menilai kecurigaan tersebut kerap muncul ketika keputusan wasit tidak sesuai dengan harapan tim. Padahal, menurutnya, keputusan wasit tidak selalu berkaitan dengan upaya menguntungkan atau merugikan salah satu tim.

Ia juga menyoroti lemahnya regulasi dalam pertandingan tarkam yang tidak berada di bawah kendali langsung PSSI. Kondisi itu membuat perangkat pertandingan dan peserta dapat berasal dari pihak yang tidak terafiliasi dengan kompetisi resmi PSSI.

“Karena kejuaraan yang sifatnya nonformal seperti tarkam itu yurisdiksi PSSI di situ lemah. Dalam pertandingan seperti itu tidak di bawah kendali PSSI, wasitnya bisa siapa saja, pesertanya bisa siapa saja,” ujarnya.

Menurut Kusnéni, lemahnya penegakan aturan dan besarnya keinginan untuk menjadi pemenang dapat memperbesar potensi konflik. Ketika hasil pertandingan tidak sesuai ekspektasi, kekecewaan tersebut dapat berubah menjadi pelampiasan emosi.

Kusnéni mencontohkan penyelenggaraan liga desa yang pernah dilakukannya selama tiga tahun bersama Kementerian Desa. Ia menyebut pertandingan tersebut tidak diwarnai kerusuhan karena regulasi jelas, panitia tegas dan profesional, serta menggunakan perangkat pertandingan profesional dari Asprov.

“Saya tiga tahun menggelar liga desa bersama Kementerian Desa itu enggak pernah rusuh, karena aturan mainnya jelas, regulasinya jelas, dan panitianya tegas, profesional. Pakai wasitnya juga wasit yang profesional dari Asprov,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....