Indonesia Butuh Bangun Kurikulum Sepak Bola
- 26 Apr 2026 03:23 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Program naturalisasi tidak bisa menjadi satu-satunya andalan membawa Indonesia ke Piala Dunia jika pembinaan usia dini tidak dibenahi secara sistemis, demikian ditegaskan dua pemerhati sepak bola dalam Dialog Interaktif Makassar Menyapa di Pro 1 RRI Makassar, Jumat 24 April 2026. Mantan pelatih PSM Makassar Syamsuddin Umar dan pengamat bola Mirdan Midding sepakat Indonesia hingga kini belum memiliki kurikulum sepak bola yang jelas dan terstruktur.
Syamsuddin mengibaratkan kondisi pembinaan sepak bola nasional seperti sekolah tanpa jenjang yang pasti, tanpa tahapan dari usia dini hingga level profesional yang terencana dengan baik.
"Kita tidak mungkin muncul di pentas dunia kalau tidak punya proses," kata Syamsuddin Umar, mantan pelatih PSM Makassar, dalam Dialog Interaktif Makassar Menyapa, Jumat 24 April 2026.
Syamsuddin memaparkan tahapan pembinaan ideal: usia 6–9 tahun difokuskan pada kesenangan bermain, usia 10–14 tahun pada pengenalan skill dasar, usia 15–17 tahun pada pemahaman taktik dan strategi, dan usia 18 tahun ke atas adalah era penampilan dan kompetisi profesional.
Mirdan Midding menambahkan, Jepang membutuhkan dua dekade untuk menghasilkan pemain kelas dunia, padahal Indonesia jauh lebih dulu memiliki tradisi sepak bola yang kuat di Asia. Korea Selatan dan Jepang bahkan pernah belajar dari Indonesia sebelum akhirnya melampaui prestasi timnas Garuda.
Mirdan menegaskan naturalisasi tetap diperlukan sebagai solusi jangka pendek, namun harus berjalan beriringan dengan pembinaan U-15, U-17, U-20, dan U-23 secara konsisten dan berbasis sport science. Tanpa cetak biru yang jelas, Indonesia dinilai hanya akan terus bergantung pada pemain naturalisasi tanpa pernah memiliki fondasi sepak bola yang kokoh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....