Latiffatul Isyaroh Ungkap Perjuangan di Balik Juara III MTQ Nasional
- 20 Sep 2026 18:49 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Di balik keberhasilan meraih juara pada panggung MTQ Nasional XXXI Tahun 2026, Latiffatul Isyaroh menyimpan cerita panjang tentang perjuangan yang tidak banyak diketahui orang. Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Bone Bone, Kabupaten Luwu Utara, itu berhasil meraih Juara Terbaik III Cabang Qiraat Murattal Dewasa (Puteri) dan membawa nama Sulawesi Selatan bersaing di tingkat nasional.
Bagi Latiffatul Isyaroh, capaian tersebut bukan sekadar hasil akhir dari sebuah perlombaan, tetapi menjadi gambaran dari proses panjang yang dilalui sebelum tampil di panggung nasional. Perempuan yang akrab disapa Latiffa itu mengaku keberhasilannya kali ini bercampur dengan rasa bahagia, haru, lelah, hingga tekanan selama menghadapi persaingan. “Perasaannya bahagia banget tentu dan ada harunya, mengingat beratnya perjuangan dan persaingan di kancah nasional tahun ini,” ungkap Latiffa, Sabtu 19 September 2026.
Saat namanya diumumkan sebagai salah satu peraih juara, Latiffa tidak langsung memikirkan piala atau posisi yang berhasil diraih. Ingatannya justru tertuju kepada orang-orang terdekat yang selama ini berada di belakang perjuangannya melalui dukungan dan doa. “Yang pertama kali terlintas adalah wajah orang-orang tersayang yang selalu men-support dan mendoakan,” tuturnya.
Bagi Latiffatul Isyaroh, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Ia menyebut keberhasilan yang terlihat di atas panggung sebenarnya menyimpan banyak proses yang tidak tampak, mulai dari rasa lelah hingga perjuangan menjaga kesiapan diri. “Karena di balik ini ada begitu banyak doa, lelah dan tentunya perjuangan yang tidak terlihat,” katanya.
Tantangan lain yang harus dihadapi Latiffa bukan hanya soal persaingan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga tekanan untuk mempertahankan prestasi yang sebelumnya pernah diraih. Pengalaman menjadi juara pada MTQ sebelumnya justru membuat penampilannya kali ini memiliki beban tersendiri karena ia harus berhadapan dengan peserta baru yang dinilainya memiliki kualitas kuat. “Beban mental karena pada MTQ sebelumnya sudah pernah juara, dan untuk mempertahankan itu tidak mudah,” jelas Latiffa.
Persaingan di tingkat nasional tersebut membuat setiap penampilan menjadi bagian penting dalam perjalanan Latiffatul Isyaroh. Ia harus menjaga ketenangan sekaligus mempertahankan kepercayaan diri agar kemampuan yang telah dipersiapkan dapat ditampilkan secara maksimal di tengah tekanan kompetisi. “Banyak peserta-peserta baru yang kualitasnya bagus tahun ini,” ujarnya.
Jika seluruh proses menuju podium dirangkum dalam satu gambaran, Latiffa menyebut ada sisi emosional yang tidak terlihat dari sebuah prestasi. Di balik hasil yang kemudian dikenal publik sebagai Juara III, terdapat pengalaman pribadi berupa rasa takut, kelelahan, hingga air mata yang harus dilewati. “Di balik juara ini sebenarnya ada air mata yang pernah jatuh, ada lelah dan takut yang saya sembunyikan,” ungkapnya.
Capaian Latiffatul Isyaroh di MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 sekaligus menjadi salah satu prestasi yang dibawa kafilah Sulawesi Selatan dalam persaingan tingkat nasional. Bagi Latiffa, pencapaian tersebut tidak ingin dijadikan alasan untuk berhenti, melainkan dorongan untuk terus memperbaiki kemampuan pada kesempatan berikutnya. “Harapannya semoga tahun selanjutnya bisa tetap mempertahankan, kalau bisa dengan prestasi yang lebih tinggi lagi,” harapnya.
Keberhasilan Latiffa memperlihatkan bahwa sebuah prestasi di panggung nasional tidak selalu lahir dari proses yang mudah atau terlihat oleh publik. Perjalanan panjang, dukungan orang terdekat, kesiapan mental, dan kemampuan menjaga konsistensi menjadi bagian yang turut mengiringi langkah Latiffatul Isyaroh hingga meraih Juara Terbaik III Qiraat Murattal Dewasa Puteri. “Semoga tahun selanjutnya bisa tetap mempertahankan,” kata Latiffa.
Bagi Latiffatul Isyaroh, Juara III MTQ Nasional bukan menjadi garis akhir dari perjalanan yang telah dilaluinya. Piala yang dibawa pulang menjadi pengingat bahwa masih ada target berikutnya yang ingin dikejar, dengan pengalaman tahun ini sebagai bekal untuk menghadapi persaingan yang lebih kuat. “Kalau bisa dengan prestasi yang lebih tinggi lagi,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....