Haul ke-20 Puang Ramma Digelar 6 September, 2.000 Jemaah Bersiap Hadir
- 05 Sep 2026 10:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Sekitar 2.000 jemaah diperkirakan menghadiri Haul ke-20 KHS Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf atau yang lebih dikenal sebagai Puang Ramma di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad, 6 September 2026. Peringatan dua dekade wafatnya tokoh tersebut akan dipusatkan di Jalan Baji Bicara dan berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.
Haul ke-20 Puang Ramma menjadi salah satu agenda yang dinantikan jemaah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy. Selain menjadi ruang untuk mengenang sosok ulama dan mursyid, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk kembali melihat nilai-nilai dakwah serta keteladanan yang diwariskan Puang Ramma kepada murid dan generasi penerusnya. Puang Ramma dikenal sebagai Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy pada masanya. Ia juga tercatat sebagai salah seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan yang memiliki peran dalam perkembangan dakwah Islam di wilayah tersebut.
Ketua Panitia Haul, Capt. Suparman, mengatakan peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Menurutnya, haul menjadi momentum untuk kembali mengenang perjuangan, dakwah, serta cara Puang Ramma membimbing umat. “Haul yang ke-20 ini bukan hanya rutinitas tahunan semata. Ini momentum untuk mengenang perjuangan, dakwah, dan cara beliau membimbing umat,” ujar Suparman saat konferensi pers di Makassar, Jumat, 4 September 2026.
"Peringatan tahun ini terasa semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan bulan Maulid. Lokasi pelaksanaan puncak haul juga berbeda dibandingkan sejumlah pelaksanaan sebelumnya yang umumnya digelar di dalam gedung, "tambahnya.
Kali ini, rangkaian utama haul dipusatkan di kawasan Baji Bicara berdasarkan petunjuk Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy, Syekh Sayyid A. Rahim Assegaf Puang Makka. Kawasan tersebut juga memiliki kedekatan historis dengan Puang Ramma, yang diketahui wafat di kediamannya di Jalan Baji Bicara pada 8 September 2006.
Selain puncak haul, panitia menyiapkan agenda Ziarah Kubro di kompleks pemakaman Tambua, Kabupaten Maros. Ziarah tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 6 hingga 8 September 2026. Ziarah Kubro akan dipandu para khalifah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf. Panitia setempat juga akan membantu pelaksanaan kegiatan, sementara jemaah diperkirakan datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga luar provinsi, termasuk Pasuruan, Surabaya, dan Jakarta.
Kehadiran jemaah dari berbagai daerah menunjukkan bahwa jejak Puang Ramma tidak hanya dikenang di lingkungan keluarga dan masyarakat Sulawesi Selatan. Dalam sejumlah peringatan haul sebelumnya, jemaah Tarekat Khalwatiyah juga tercatat datang dari berbagai wilayah Indonesia untuk mengikuti rangkaian zikir, doa, dan pembacaan manakib.
Panitia telah melakukan berbagai persiapan untuk mengantisipasi kepadatan jemaah selama kegiatan berlangsung. Koordinasi dilakukan bersama kepolisian dan Dinas Perhubungan, termasuk dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat untuk membantu pengaturan lalu lintas dan lokasi parkir. Suparman mengimbau seluruh jemaah mengikuti arahan petugas selama rangkaian kegiatan berlangsung. Ia juga meminta jemaah ikut menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan di sekitar lokasi haul.
Sementara itu, Syekh Sayyid A. Rahim Assegaf Puang Makka menjelaskan bahwa haul merupakan momentum untuk mengenang wafatnya seseorang. “Haul itu mengenang hari wafatnya seseorang,” kata Puang Makka. Bagi Puang Makka, sosok Puang Ramma memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan keluarga. Puang Ramma merupakan ayah sekaligus guru dan mursyid yang membimbing perjalanan keilmuannya dalam Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy.
"Dua puluh tahun setelah wafatnya, nama Puang Ramma tetap hidup melalui tradisi keilmuan, jaringan murid, serta kegiatan keagamaan yang terus berlangsung. Jejak tersebut menjadi alasan haul tidak hanya dipandang sebagai kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi juga sebagai upaya menjaga nilai dakwah dan keteladanan agar tetap dikenal generasi berikutnya, "tambahnya.
Dalam rangkaian Haul ke-20 tahun ini, kisah perjalanan hidup Puang Ramma juga kembali diperkenalkan melalui karya manakib dan versi novel yang mengangkat sosok sang mursyid. Langkah tersebut menjadi cara lain untuk mendekatkan kisah perjuangan dan warisan Puang Ramma kepada masyarakat, terutama generasi yang tidak mengalami langsung masa dakwahnya.
Peringatan Haul ke-20 Puang Ramma pada akhirnya menjadi titik temu antara tradisi, sejarah dakwah, dan upaya meneruskan warisan seorang ulama. Dari Baji Bicara hingga Tambua, ribuan jemaah akan kembali berkumpul untuk berzikir, berdoa, serta mengenang perjalanan seorang tokoh yang meninggalkan pengaruh panjang dalam kehidupan keagamaan di Sulawesi Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....