Sulsel Raih Posisi Kedua Nasional MTQ VIII Korpri 2026

  • 30 Agt 2026 10:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Musabaqah Tilawatil Qur’an atau MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026 resmi berakhir di Sulawesi Selatan. Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar menegaskan, berakhirnya perlombaan bukan berarti berhentinya semangat menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam birokrasi dan pelayanan publik.

Penutupan MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026 berlangsung di Alun-Alun Citra Mas Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu malam 29 Agustus 2026. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi, Penasihat DWP Kementerian Agama RI Helmi Halimatul Uthmah Nasaruddin, sejumlah Sekretaris Daerah Provinsi, Bupati Pangkep, Wali Kota Makassar dan Bupati Gowa.

Acara penutupan juga dihadiri pimpinan instansi vertikal, wakil bupati, jajaran Pengurus Korpri serta sejumlah pejabat Kementerian Agama Sulawesi Selatan. Kabag TU Kanwil Kemenag Sulsel Aminuddin hadir mewakili Kakanwil, sementara Ketua DWP Kemenag Sulsel Saidah Ali Yafid dan Kepala Kemenag Pangkep Ramli Rasyid turut hadir, “MTQ Korpri di Sulsel telah berlangsung aman, tertib, lancar dan penuh kekeluargaan,” ujar Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, selama beberapa hari Makassar dan Pangkep menjadi tempat bertemunya ASN dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan tersebut tidak hanya mempertemukan para peserta dalam sebuah kompetisi, tetapi juga menyatukan mereka melalui kecintaan terhadap Al-Qur’an dan semangat pengabdian kepada bangsa, “musabaqah ini boleh berakhir malam ini, tetapi tugas kita bersama untuk membumikan Al-Qur’an justru harus semakin kuat,” tegasnya.

Menteri Agama menilai keberhasilan MTQ VIII Korpri tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah piala, medali, peringkat maupun predikat juara umum. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana nilai Al-Qur’an mampu memengaruhi cara ASN berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, “ukuran yang lebih hakiki adalah sejauh mana Al-Qur’an memengaruhi cara ASN berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.

Nasaruddin menekankan bahwa nilai Al-Qur’an harus terlihat dalam praktik birokrasi sehari-hari. Ia menyebut keputusan yang adil, kebijakan yang membawa kemaslahatan, pelayanan yang mudah, pengelolaan anggaran secara jujur hingga penggunaan kewenangan secara bertanggung jawab sebagai bentuk nyata pengamalan nilai tersebut, “Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dengan suara yang indah, tetapi harus hadir dalam keputusan yang adil,” katanya.

Ia juga mengingatkan para ASN bahwa jabatan, anggaran, data, informasi, kewenangan hingga waktu kerja yang diberikan negara merupakan amanah. Karena itu, aparatur yang Qur’ani menurutnya bukan sekadar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga harus dapat dipercaya, menjunjung keadilan dan menolak penyalahgunaan kewenangan, “di tangan Saudara, ayat-ayat Al-Qur’an bersentuhan langsung dengan urusan masyarakat dan kebijakan publik,” ujar Nasaruddin.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam penutupan MTQ VIII Korpri karena peserta akan kembali menjalankan tugas di daerah dan instansi masing-masing. Nasaruddin mengajak seluruh peserta membawa semangat perlombaan tersebut ke tempat kerja melalui pembinaan Al-Qur’an yang dilakukan secara berkelanjutan, “MTQ Korpri jangan hanya menjadi agenda dua tahunan, ia harus menjadi bagian dari gerakan besar menghadirkan etika Qur’ani dalam birokrasi Indonesia,” pesannya.

Pembinaan tersebut, menurut Nasaruddin, dapat dilakukan melalui tilawah, tadabur, kajian dan pengamalan nilai Al-Qur’an dalam budaya kerja. Dengan begitu, MTQ VIII Korpri tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dapat meninggalkan pengaruh terhadap cara aparatur menjalankan tugas dan melayani masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Nasaruddin juga memberikan apresiasi kepada Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional Prof. Zudan Arif Fakrulloh atas pengabdiannya selama 12 tahun dalam mengurus Korpri. “Terima kasih Prof. Zudan yang sudah mengabdikan dirinya mengurus Korpri selama 12 tahun, seandainya AD/ART memungkinkan, Prof. Zudan masih layak dipertahankan,” ujarnya.

Menag kemudian mengajak seluruh aparatur untuk tetap menjaga persatuan Indonesia setelah rangkaian MTQ VIII Korpri berakhir. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Sulawesi Selatan yang telah menjadi tuan rumah dan berharap penyelenggaraan berikutnya di Maluku Utara dapat berlangsung semakin baik, “selamat Sulawesi Selatan yang telah menggelar MTQ ini dengan baik, mudah-mudahan MTQ nanti di Maluku Utara lebih baik lagi,” imbaunya.

Dalam seremoni penutupan, dilakukan penyerahan bendera pataka dari Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional Prof. Zudan Arif Fakrulloh kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Penyerahan tersebut menjadi simbol estafet penyelenggaraan MTQ Korpri Tingkat Nasional pada pelaksanaan berikutnya, “mari kita terus rawat Indonesia ini,” pesan Nasaruddin.

Sementara itu, berdasarkan hasil akhir MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026, Sumatera Barat menempati posisi pertama dalam daftar 10 besar. Sulawesi Selatan berada di posisi kedua, disusul DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, Riau, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Kafilah Kementerian Agama RI sendiri berada di peringkat ke-15 dalam hasil akhir kompetisi tersebut. Meski perlombaan telah selesai, pesan utama yang disampaikan Menag menjadi bekal bagi para peserta untuk membawa nilai Al-Qur’an kembali ke lingkungan kerja, “semoga Allah menjadikan aparatur negara Indonesia sebagai aparatur yang beriman, berintegritas, profesional, dan senantiasa menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....