Sebanyak 140 Guru PAI Makassar Didorong Tanamkan Nilai Cinta di Sekolah

  • 27 Agt 2026 19:41 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Sebanyak 140 Guru PAI dari Kecamatan Tallo, Manggala, dan Ujung Tanah mengikuti Workshop Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Implementasi CP 020 Tahun 2026 yang digelar di Dwi Sri, Kabupaten Gowa, Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat nilai keagamaan dalam pendidikan.

Workshop tersebut menjadi ruang bagi Guru PAI untuk menyamakan pemahaman mengenai kebijakan terbaru Kementerian Agama, terutama penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad, menyebut kebijakan tersebut perlu dipahami secara utuh agar tidak berhenti sebagai konsep di lingkungan pendidikan.

H. Muhammad hadir dalam kegiatan tersebut bersama Kasi PAIS H. Saifullah Rusmin dan Pengawas PAI dari tiga kecamatan, Darmawati. “Kurikulum Berbasis Cinta adalah implementasi yang lebih detail dari moderasi beragama,” tegas H. Muhammad.

Menurut H. Muhammad, terdapat lima nilai cinta yang perlu dipahami dan ditanamkan kepada peserta didik melalui proses pendidikan. “Ada lima cinta yang harus dipahami dan ditanamkan, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada tanah air,” ujarnya.

Dalam penerapannya, Guru PAI dinilai memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran agama. “Tugas guru bukan hanya mengajar dan menyelesaikan materi di kelas,” kata H. Muhammad.

Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan peserta didik memahami materi pelajaran. “Guru harus memastikan anak-anak memahami nilai ketuhanan, memiliki karakter yang baik, mencintai sesama dan lingkungannya, serta tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat,” jelasnya.

Nilai cinta terhadap lingkungan juga menjadi perhatian dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di sekolah. H. Muhammad menyebut taman ekoteologi, meskipun dibuat secara sederhana, dapat dimanfaatkan Guru PAI sebagai ruang belajar untuk mengenalkan kepedulian terhadap alam.

“Keberadaan taman ekoteologi dapat menjadi media pembelajaran yang mengajarkan peserta didik untuk mencintai dan merawat alam,” ujarnya. Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman seperti itu dapat membantu siswa memahami nilai kepedulian lingkungan melalui tindakan nyata.

Sementara itu, Kasi PAIS Kemenag Kota Makassar H. Saifullah Rusmin mengatakan workshop juga dimanfaatkan untuk menyampaikan sejumlah regulasi kepada para Guru PAI. “Kegiatan ini menjadi sarana bagi kami untuk menyampaikan regulasi dari Kementerian Agama, terutama yang berkaitan dengan guru PAI,” jelasnya.

Selain membahas penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, peserta juga mendapatkan informasi mengenai sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan Guru PAI. “Termasuk pembayaran TPG, juknis TPG, dan berbagai kebijakan lainnya,” sambung Saifullah.

Saat ini, tercatat 1.199 Guru PAI penerima sertifikasi di Kota Makassar yang berasal dari unsur PNS, PPPK, maupun non-ASN. Saifullah menjelaskan, “Mekanisme pembayaran sertifikasi tersebut dilakukan melalui Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan.”

Workshop ini diharapkan tidak berhenti pada penyamaan pemahaman mengenai kebijakan, tetapi berlanjut dalam praktik pembelajaran di sekolah. “Guru PAI tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi menjadi teladan dan penggerak lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan penuh cinta,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....