Akses Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan Disabilitas Dinilai Belum Merat

  • 24 Agt 2026 09:15 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Akses informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi perempuan penyandang disabilitas dinilai masih belum merata. Kebutuhan informasi yang berbeda pada setiap ragam disabilitas membuat edukasi kesehatan perlu disampaikan dengan metode yang lebih inklusif.

Perwakilan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan, Nurul Fadilah Putri, mengatakan perempuan penyandang disabilitas masih sering tertinggal dalam memperoleh informasi kesehatan, termasuk mengenai kesehatan reproduksi.

“Teman-teman perempuan, jangankan teman perempuan, teman-teman disabilitas itu seringkali tertinggal dan tidak mendapatkan informasi,” ujar Nurul dalam dialog Ruang Disabilitas RRI Pro 1 Makassar.

Menurutnya, keterbatasan informasi membuat sebagian perempuan penyandang disabilitas belum memahami cara menjaga dan merawat kesehatan reproduksi. Pembahasan mengenai kesehatan reproduksi juga masih dianggap tabu sehingga sebagian dari mereka merasa malu untuk membicarakannya.

Perwakilan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan, Nurul Fadilah Putri dalam program Ruang Disabilitas RRI Pro 1 Makassar.

Nurul menilai kebutuhan edukasi harus disesuaikan dengan ragam disabilitas. Bagi penyandang disabilitas tuli, misalnya, kegiatan edukasi perlu menghadirkan juru bahasa isyarat atau JBI agar informasi dapat dipahami secara utuh.

“Kalau misalnya ada pelatihan seringkali untuk teman tuli itu enggak ada JBI, sehingga kalau ada edukasi yang berupa pelatihan, teman tuli itu enggak ngerti,” jelasnya.

Sementara bagi penyandang disabilitas netra, edukasi kesehatan reproduksi membutuhkan alat peraga yang dapat disentuh. Adapun bagi penyandang disabilitas intelektual, informasi perlu menggunakan bahasa sederhana dan media visual yang disertai penjelasan secara jelas.

Selain akses informasi, Nurul menyebut fasilitas pelayanan kesehatan juga perlu memberikan akses yang setara. Menurutnya, masih terdapat fasilitas yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas, baik dari sisi sarana maupun kemampuan tenaga kesehatan dalam berkomunikasi.

Karena itu, HWDI Sulsel mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu berinteraksi dengan berbagai ragam disabilitas. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah puskesmas di Makassar dalam program kesehatan reproduksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....