Inovasi Pangan Warga Sukamaju Sinjai, Olah Buah Naga Jadi Keripik, Dodol dan Sirup
- 19 Agt 2026 13:33 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Sinjai - Masyarakat Desa Sukamaju, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai mulai mengembangkan buah naga menjadi produk olahan berupa keripik, dodol, dan sirup. Diversifikasi dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Tahun ke-2 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Program mendapat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ketua program, Abdul Wahid mengatakan, pengembangan produk olahan dilakukan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan penjualan buah naga dalam kondisi segar. Menurutnya, pengolahan menjadi berbagai produk dapat memperluas peluang pasar dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
| Baca juga: Tim PKM UNM Hadirkan Inovasi Kantong Cerita |
“Selama ini buah naga lebih banyak dijual dalam bentuk segar. Kami ingin masyarakat melihat bahwa buah naga bisa diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas,” kata Abdul Wahid, saat dikonfirmasi Rabu, 19 Agustus 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 28 Juli 2026 tersebut dihadiri Kepala Desa Sukamaju Asrul Arkan, Ketua Kelompok Tani Bagun, Ketua Karang Taruna Taslim, mahasiswa, aparat desa, serta tokoh masyarakat. Program diketuai Abdul Wahid dengan tim pelaksana Amanda Patappari Firmansyah, Basri Basir MR, A. Farmy Zul Fariduddin Attar, serta mahasiswa Unismuh Makassar.
Selama ini, buah naga di wilayah tersebut lebih banyak dipasarkan dalam bentuk segar. Kondisi itu membuat nilai ekonominya sangat dipengaruhi hasil panen dan kondisi pasar. Melalui kegiatan diversifikasi, masyarakat diperkenalkan dengan pengolahan buah naga menjadi keripik, dodol, dan sirup. Peserta juga dilibatkan secara langsung dalam proses pembuatan ketiga produk tersebut.
Keripik buah naga dikembangkan sebagai alternatif produk olahan dari buah segar. Sementara dodol diarahkan menjadi pangan olahan yang berpotensi dikembangkan sebagai produk khas desa. Adapun sirup buah naga menjadi alternatif produk minuman yang dapat dikemas dan dipasarkan. Ketiga produk tersebut membuka peluang pasar yang berbeda dibandingkan penjualan buah naga dalam bentuk segar.
Abdul Wahid menjelaskan, kegiatan tidak hanya berorientasi pada kemampuan masyarakat menghasilkan produk olahan. Pendampingan juga diarahkan pada penguatan kemampuan mengelola usaha dan memasarkan produk. “Targetnya bukan hanya masyarakat mampu membuat keripik, dodol, atau sirup buah naga, tetapi juga mampu mengembangkan produk itu menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, program turut mencakup penguatan manajemen usaha, branding, desain kemasan, pelabelan, serta pemasaran digital. Langkah tersebut diperlukan agar produk olahan masyarakat memiliki daya saing yang lebih baik. Pendekatan praktik juga digunakan agar masyarakat memperoleh pengalaman langsung mengolah bahan baku yang tersedia di desa. Buah naga dari kebun masyarakat diarahkan tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga bahan baku berbagai produk pangan.
Pengolahan tersebut diharapkan dapat memperpanjang rantai nilai buah naga. Nilai ekonomi tidak hanya diperoleh ketika buah dijual dalam keadaan segar, tetapi juga melalui proses produksi, pengemasan, pemasaran, dan penjualan produk olahan. Dalam pengembangannya, kelompok tani dapat berperan dalam penyediaan bahan baku, sedangkan masyarakat terlibat dalam proses produksi. Karang Taruna juga dapat mengambil bagian dalam promosi dan pemasaran produk.
Tim pengabdian dan mahasiswa Unismuh Makassar memberikan pendampingan dalam pengembangan produk dan peningkatan kapasitas masyarakat. Sementara pemerintah desa mendukung pelaksanaan serta keberlanjutan program. Abdul Wahid berharap keripik, dodol, dan sirup buah naga dapat berkembang menjadi salah satu identitas produk lokal Desa Sukamaju. Penguatan kemasan dan pemasaran dinilai menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan konsumen.
“Potensi bahan bakunya sudah ada di desa. Yang perlu diperkuat adalah keterampilan mengolah, pengelolaan usaha, dan pemasarannya. Jika semuanya berjalan bersama, buah naga dapat menjadi produk unggulan yang memberi manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat,” ucapnya.
Program Pemberdayaan Desa Binaan tersebut menjadi bagian dari upaya Unismuh Makassar mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal melalui inovasi pengolahan pangan. Buah naga yang sebelumnya lebih banyak dijual dalam bentuk segar kini mulai dikembangkan menjadi sejumlah produk bernilai tambah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....