Kemerdekaan Sejati Menurut Buddha Bebas dari Loba, Dosa, Moha

  • 13 Agt 2026 15:35 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kemerdekaan sejati menurut ajaran Buddha tidak berhenti pada bebasnya sebuah bangsa dari penjajahan, melainkan mencakup pembebasan batin dari belenggu yang selama ini mengikat kehidupan manusia sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Pandita Madya Romo Hemajayo Thio dalam program Mimbar Agama Buddha RRI Pro 1 Makassar bertema Kemerdekaan Sejati yang disiarkan pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Momentum bulan Agustus yang identik dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia dijadikan pintu masuk untuk merenungkan makna kemerdekaan yang lebih mendalam menurut perspektif Buddhis. Romo Hemajayo Thio, yang juga aktif di Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Sulawesi Selatan dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, menegaskan bahwa kebebasan lahiriah sebagai sebuah bangsa perlu diimbangi dengan pencapaian kebebasan batin oleh setiap individu.

"Merdeka dalam pengertian Buddhis bukan berarti bebas melakukan sesuatu, tapi seseorang itu akan merdeka kalau dia tidak mengikuti semua nafsu keinginannya," ujar Romo Hemajayo Thio dalam dialog nya, saat menjelaskan konsep kemerdekaan batin kepada pendengar.

Romo Hemajayo Thio menjelaskan bahwa penderitaan manusia sesungguhnya tidak berasal dari luar dirinya, melainkan dari tiga akar keburukan yang dalam bahasa Pali disebut akusalamula, yaitu loba atau keserakahan, dosa atau kebencian, dan moha atau kebodohan batin. Menurutnya, ketiga hal inilah yang secara diam-diam menjajah batin manusia meski secara fisik seseorang telah hidup di negara yang merdeka.

Ia mencontohkan bahwa banyak orang tanpa sadar terperangkap dalam rutinitas harian tanpa pernah meluangkan waktu untuk merenungkan makna kehidupan, sebuah bentuk perbudakan oleh keserakahan. Kemarahan, iri hati, dan dendam yang mudah muncul dalam interaksi sosial juga disebutnya sebagai wujud nyata dari belenggu kebencian yang menjauhkan seseorang dari kedamaian batin.

Untuk mengatasi ketiga akar keburukan tersebut, Romo Hemajayo Thio mengajarkan pentingnya mengembangkan tiga landasan yaitu sila atau moralitas, samadi atau keteguhan batin melalui meditasi, dan panna atau kebijaksanaan. Ketiganya disebut saling berkaitan, di mana moralitas menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan, sementara meditasi melatih fokus batin hingga akhirnya menumbuhkan kebijaksanaan sejati.

"Sepanjang kita masih dipenuhi oleh loba, dosa, dan moha, maka kita sesungguhnya secara lahir mungkin bebas, tetapi secara batin kita diperbudak oleh tiga hal ini," kata Romo Hemajayo Thio, menegaskan pentingnya kesadaran atas kondisi batin di tengah kebebasan yang telah diraih bangsa.

Romo Hemajayo Thio turut menyoroti tantangan kemerdekaan batin di era media sosial, di mana emosi dan tekanan hidup kerap memengaruhi generasi muda tanpa disadari. Ia menganjurkan pengembangan Brahma Wihara atau empat kediaman luhur, yakni metta atau cinta kasih, karuna atau belas kasihan, mudita atau rasa simpatik terhadap keberhasilan orang lain, dan upekkha atau keseimbangan batin, sebagai bekal menghadapi arus informasi yang deras di dunia digital.

"Ketika kita bisa mengendalikan diri kita dan tidak lagi diperbudak oleh keinginan-keinginan yang menjauhkan kita dari keseimbangan batin, maka kita sesungguhnya sudah memperoleh kemerdekaan sejati itu sendiri," ungkap Romo Hemajayo Thio menutup penjelasannya mengenai jalan menuju kebebasan batin yang hakiki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....