Ali Yafid Tegaskan Pendidikan Inklusi Harus Dimulai dari Pemimpin
- 02 Agt 2026 20:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Nilai saling menghormati, menyayangi, dan memperlakukan setiap orang secara adil menjadi ajaran penting dalam Islam yang relevan diterapkan di dunia pendidikan. Berangkat dari semangat tersebut, MTsN 1 Bone menggelar Pelatihan Pendidikan Inklusi sebagai upaya membangun lingkungan belajar yang ramah, humanis, serta memberi kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik sesuai potensi yang dimiliki.
Pelatihan Pendidikan Inklusi yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, Sabtu 1 Agustus 2026, dibuka langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan budaya madrasah yang menempatkan nilai kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap keberagaman sebagai fondasi pendidikan.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, Ahmad Yani, Plt. Kasubag Tata Usaha Rahman, Ketua Pokjawas Madrasah Andi Nur Budiman, Pengawas Madrasah Tsanawiyah Akmal, serta para guru dan tenaga kependidikan MTsN 1 Bone. Kehadiran para pemangku kepentingan itu menunjukkan bahwa pengembangan Pendidikan Inklusi membutuhkan dukungan bersama agar dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan madrasah.
Dalam laporannya, Kepala MTsN 1 Bone, Ambo Asse, menyampaikan rasa syukur atas sejumlah capaian yang diraih madrasah. Selain berhasil meraih Juara I Pengelolaan Anggaran dari KPKNL Bone, ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran baru jumlah peserta didik baru mencapai 541 orang yang terbagi dalam 14 rombongan belajar, sehingga total peserta didik kini mencapai 1.605 orang.
Ambo Asse turut menyampaikan apresiasi kepada Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Kepala Kantor Kemenag Bone, dan jajaran Pendidikan Madrasah yang hadir memberikan penguatan. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi motivasi bagi MTsN 1 Bone untuk terus meningkatkan kualitas layanan Pendidikan Inklusi di madrasah.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone, Ahmad Yani, menegaskan bahwa Pendidikan Inklusi tidak hanya berbicara tentang menerima peserta didik yang beragam, tetapi juga membangun budaya kerja yang menghargai setiap individu. "Pendidikan inklusi yang kita inginkan adalah pendidikan yang humanis dan non-diskriminasi. Madrasah yang saya pahami sampai hari ini adalah madrasah yang ramah dan menyejukkan," ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh warga madrasah untuk menjaga kekompakan dan memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas. "Mari kita ciptakan suasana cinta di madrasah. Saya tidak mau ada pertengkaran di antara sesama guru, sibombe-bombe. Bangun kekompakan, saling menghargai, dan bekerja bersama untuk kemajuan madrasah," pesannya.
Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Ali Yafid, menambahkan bahwa keberhasilan Pendidikan Inklusi dimulai dari cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya. "Apa yang disampaikan Pak Kakan Kemenag dan Kepala Madrasah, insya Allah ada nilainya. Seorang pimpinan harus mampu membuat bawahannya tersenyum. Yang boleh mengerti para staf adalah pimpinan, bukan bawahan yang harus memahami pimpinan. Pimpinanlah yang harus merangkul bawahannya. Itulah pendidikan inklusi," tutur Ali Yafid.
Menurutnya, budaya saling menghargai akan menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. "Berbuat baiklah kepada orang lain, insya Allah kebaikan itu akan kembali kepada kita, kalau bukan kepada kita, maka kepada istri, anak, atau cucu kita," ungkapnya.
Di akhir arahannya, Ali Yafid mengingatkan bahwa Pendidikan Inklusi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya menjadi materi pelatihan atau konsep di atas kertas. "Inklusi bukan hanya konsep teori, tetapi yang kita inginkan adalah tindak lanjutnya. Ekoteologi pun pada hakikatnya penuh dengan cinta, yaitu mencintai lingkungan sebagai amanah dari Allah SWT," pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, MTsN 1 Bone diharapkan semakin mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah, aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik. Penguatan Pendidikan Inklusi juga diharapkan mendukung implementasi nilai-nilai Asta Protas Kementerian Agama sehingga madrasah mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....